Archive for the ‘puisi’ Category

puisiku dimuat di elfata ed 2013

Bismillahirrahmanirrahim

UNTUK CINTA PERTAMAKU

Sepanjang mataku memandang laut lepas

Atau ku susuri jalan di muka bumi ini

Atau ku bayangkan jauhnya langit bila ku gapai

Aku tahu

Aku sadar

Dan sangat mengerti

Semua tak akan membandingi besar cintamu

Tulus kasihmu

Besar pengorbananmu

Untukku, duhai ibu, duhai cinta pertamaku…

Maka di sini, di antara sepi dan rintik rinai

Sejuta doa, segunung harap, selangit rindu

Ku kirimkan hanya untukmu…

19 Apr 13

TERIMA KASIH AYAH

Peluh itu, Ayah,

Ku lihatnya seperti biji jagung yang memenuhi keningmu

Aku mengerti bahwa itu adalah tanda

Kau membawa, memberi dan menyimpan cinta

Penat itu, Ayah,

Ku lihatnya berubah menjadi senyuman ketika kau melihatku

Aku mengerti bahwa itu adalah tanda

Selaksa kasih yang memenuhi seluruh jiwamu

Untukku…

Terima kasih Ayah,

Tak kan abai ku kepada setiap tetes keringat

Tak kan masai ku kepada setiap mawar di bibirmu

Ayah, aku mencintaimu…

19 Apr 13

Elang

Ku pinjam pikirmu untuk ku pakai sebagai elang dalam mengarungi langit kehidupanku…

Aku tahu aku sedang berlawanan arah dengan akar di mana aku pernah tumbuh

Aku mencoba untuk melawan arus

Aku tahu aku akan bertemu dengan langit yang menghitam

Tetapi kau bilang….

Jalan masih panjang

Bahwa di seberang lautan sana ada surga

Yang harus ku beli dengan jiwa dan raga

Betapa aku lemah selemah-lemah apa yang lemah

Aku mempunyai…

Hati yang tipis

Yang mudah robek

Mudah tertiup angin apapun

Aku membutuhkan pancangan

Di mana aku akan selalu ada dalam naungan-Nya

Aku ingin bisa meminjam keteguhanmu

Ingin bisa menyewa kejernihan telagamu

Ingin bisa berpayung dalam kelembutan hatimu

Duhai…

Berikanlah padaku

Akan ku bayar walau dengan mahkotaku…

Saat Kau Sebut Namaku

Bismillah

Dayung-dayung kapalku telah patah

Aku tak bisa lagi arungi subuh-subuh hidup ini

Setelah mega merah pergi,

Meninggalkan siluet harapan di dalam hati

Membiarkannya terjual oleh waktu

Sadarlah…

Bahwa kaulah orang

Yang ku maksud dalam puisi ini

Biarkan aku berada dalam keheninganmu

Terbuai oleh melodi hati

Biarkan aku nikmati detak jantungmu

Yang berdegup tak beraturan

Saat kau sebut namaku…

Di Sini… Di Dalam Hati Ini

Hitam lembaran hati ini semakin mengusam saja

Kau toreh derita dengan bayanganmu yang selalu muncul dalam bersit pikiranku

Kau tak pernah tahu apa itu derita

Sehingga seenaknya dirimu datang dan pergi mencabik-cabik relung hatiku

Kau bisa saja tertawa-tawa,

Mewarnai hari dengan segunung sukacita

Kau telah lupa bahwa di sini,

Di dalam hati ini…

Kau telah tinggalkan luka yang lebar menganga

Aku jamin bahkan sejuta balutan pun tak akan mampu menghentikan laju darah ini

Kau harus tahu rasanya!

Sakit!

Perih sekali!

Tidak adil bila hanya aku yang merasakan perih ini

Jangan mentang-mentang kau mentari

Lalu bebas memberikan sinarmu pada siapa saja

Aku tak mau mendapatkan kasih yang terbagi

Kecuali bila kasih terbagimu itu mampu memberiku hidup

Aku ingin meraih teduh dan berlindung dari terik kesombonganmu

Kau harus tahu bahwa aku muak dengan kehadiranmu yang selalu saja mengganggu cintaku pada Kekasihku…

Kau harus tahu bahwa aku sangat marah dan benci kepadamu

Sudah ku usir dirimu sejauh yang aku bisa

Tetapi kau selalu ada di tempatmu semula

Di sini…

Di dalam hati ini…

Semakin lama semakin aku tahu

Bahwa kebencian ini adalah kerinduan

Bahwa kekecewaan ini adalah kasih dan sayang

Kau selalu ada

Di sini…

Di dalam hati ini…

Dan tak pernah mau pergi

………..

Rindu

Bismillahirrahmanirrahim

Allah,

Wahai Tersayang…

Aku merindukan jannah-Mu…

Merindukan kekasih-Mu, Muhammad…

Merindukan Abu Bakar

Umar

Utsman

Ali….

Merindukan istri-istri dan putri-putri kekasih-Mu…

Rindu ibarat belati yang menyayat hati

Balutlah hati ini dengan cinta-Mu

Legakan rindu ini dengan bertemu mereka…

Allah,

Wahai Terkasih…

Jika dosa memiliki bau, maka sungguh tak akan ada orang yang mau mendekatiku

Engkau tahu aku sangat hina

Aku sangat membutuhkan air suci untuk mencuci tubuhku dari dosa

Tenggelamkan aku dalam lautan taubat…

Amin…

Luka

Bismillahirrahmanirrahim

Ada sepotong luka di tengah hatiku yang memerah. Saat senja mulai melambaikan tangannya. Lalu lirih ucapkan selamat tinggal. Waktu itu kelam menyambutku. Malam akan menjadi temanku. Aku cemas… seakan esok tak lagi ada. Seakan surya pergi untuk selamanya. Aku ingin kau tetap tinggal di sini, Surya… . Di tengah-tengah hati ini. Tetapi adakah seberkas cahaya memberiku kesempatan untuk menggapaimu ….

Saat luka menawarkanku air mata, dengan sigap aku mengiyakannya. Padahal kata orang, air mata malah akan menambah perih sebuah luka. Entahlah, mengapa aku tak bisa menolak tawarannya. Lalu aku merasakan… lukaku semakin perih…

Aku mencoba untuk selalu membalut lukaku. Mengobatinya dengan obat paling mujarab yang pernah ku tahu. Tetapi balutan luka itu selalu saja tertoreh, karena kau tak pernah datang mengunjungiku kembali… Aku selalu menunggu habisnya malam yang terus memberikan kesenyapan. Mengharap kau segera datang, Surya… Menyinari hatiku… Memberiku kehangatan. Jangan kau pergi terlalu lama… sebab aku tak akan tahan tanpa mu. Aku akan mati bila kau tak ada. Maka, cepatlah datang, sebelum aku mati…

Ku Pikir

Ku pikir…

Tak ada yang lebih indah

Tak ada yang lebih basah

Selain namaku mengakar kuat di tanah hatimu

Ku pikir…

Tak ada yang lebih perih

Tak ada yang lebih pedih

Selain namamu harus tercabut dari tanah hatiku

Ku pikir…

Tak ada yang lebih berat

Tak ada yang lebih tak terpikulkan

Selain diriku harus mengenal tentang arti kata tiada

Melalui sebuah kejadian yang memaksaku harus berkata…

Retak sudah tanah cinta ini…