Untukmu, Yang Begitu Wanita

Jangan kau tanya padaku tentang bagaimana perasaanku padamu. Bila kau mengetahuinya, ku jamin kau akan tercekat. Kau akan terperanjat. Sebab aku telah menyalahi adat. Aku tak sepenuhnya mengerti tentang kekuasaan adat di keluarga ini. Bahwa seorang guru tak boleh menyukai muridnya.  Sebenarnya siapa yang membuat peraturan brengsek itu? Peraturan yang mengotak-kotakkan cinta. Memenjarakan harapan. Mengekang asa. Membuat tekanan dalam dada kemudian menjalar ke otak dan memporakporandakan hati.

Kau bernama Hidayati. Di mataku, kau adalah muridku yang paling perempuan. Teman-temanmu biasa memanggilmu Heidi. Tapi aku lebih tentram memanggilmu dengan nama Hidayah. Kau tahu sebabnya? Karena memang lewat kau-lah, Allah menunjukkanku ke jalan-Nya yang lurus.

***

Ibuku marah besar, Hid. Karena aku mempertahankan cintaku padamu. Kata ibu, aku adalah anak yang kurang ajar. Sudah berani melangkahi adat nenek moyang keluarga. Mereka masih percaya khurafat-khurafat murahan nenek-nenek tua itu. Kata Ibu, kalau menikah dengan  murid, nanti anak akan cacat dan rizki akan tersendat-sendat. Ibuku terlalu buta untuk melihat kenyataan. Sudah berapa banyak seorang guru menikahi muridnya dan anaknya normal, tak kurang sesuatu apapun dari dirinya. Bahkan rizkinya juga mampu menutup rasa lapar anak tujuh turunannya.

Aku ingin buktikan itu, Hid…

Maka aku datang ke rumahmu. Aku tak takut ibuku tak mengantarku dengan payung keridho-annya. Karena aku yakin aku ada di jalan kebenaran. Aku yakin aku tak salah memilih wanita. Bukankah Nabi Muhammad saw. menganjurkan kepada kita untuk memilih istri dengan melihat agamanya? Aku sudah membuka mata, Hid. Bahwa kau bukanlah wanita secantik artis. Bahkan kamu mempunyai mata yang juling. Tetapi bukan itu orientasi pernikahanku. Bagiku kau sempurna. Kau begitu wanita. Aku ingin cinta ini telah halal saat kau wisuda sebagai hafizhah berprestasi di Ma’had Tahfizhmu yang ku tahu bernama “Al-Mubarak”. Aku ingin mendampingimu. Mengecup keningmu sebagai hadiah wisudamu, nanti.

Iklan

2 responses to this post.

  1. Subhaanallah…sebuah kisah inspiratif dan membesarkan jiwa yang membacanya… jazakumullah kher, Ukhti Hasna…

    Balas

  2. ini masih ada kelanjutannya, mbak. belum tak post tapi…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: