Hikmah

Bismillahirrahmanirrahim

Sore hari Jum’at, 4 Maret 2011, sekitar jam 15.30, aku selesai tahfizh di belakang UNS. Langit baru saja berhenti menangis. Sebenarnya ada kemungkinan untuk menangis kembali, mengingat wajahnya yang sangat muram. Aku harus segera sampai di Mangkubumen untuk kuliah Bahasa Arab. Jadi meski langit sedang cemberut, aku nekat berbekal tawakal dan membangun segunung harapan bahwa langit akan menangis bila aku telah sampai di tujuan.

Aku diboncengkan temanku naik sepeda motor. Kami masih berada di samping pagar dinding UNS. Tetapi langit tentu saja lebih mementingkan perintah Allah. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai jas hujan. Satu untuk berdua. Bisa dibayangkan air yang begitu bandel membasahi segala yang ku pakai. Bagaimana aku kuliah dengan keadaan seperti ini… Di dalam hati aku berkata kepada Allah, ya Allah… jangan sekarang… biarkan aku sampai dulu di tempat kuliah…

Tetapi Allah tampaknya tak mengabulkan doaku. Bahkan sampai di Jebres, jalanan sudah jadi seperti sungai. Aku difoto oleh langit. Takut sekali mendengar suara kameranya. Di dalam hati, aku berdoa: Allahumma laa taqtulnaa bi ghadhabika wa laa tuhliknaa bi ‘adzaabika wa ‘aafina qabla dzalik… Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir..

***

Alhamdulillah. Aku sampai di Mangkubumen. Aku turun tepat di depan rumah Usth. Munawaroh. Aku dan beliau sudah seperti kakak dan adik. Maksudnya kita udah biasa banget, sehingga aku nggak sungkan untuk sekedar pinjam baju… aku mengetuk pintu rumahnya. Tetapi tak ada jawaban. Barangkali kurang keras. Ku ulangi lagi. Tetap tak ada jawaban. Akhirnya aku pencet nomor hpnya. Dia bilang dia masih di Semarang. MasyaAllah… aku baru ingat dia kan ke Pekalongan untuk menghadiri walimah. Dan sekarang masih ada di Semarang! Kira-kira semenit setelah itu, ada sms masuk:

Info ma’had Aly_2: mata kuliah bahasa Arab diliburkan dan diganti besok pagi jam 06.00.

Blaaarrr!!!

MasyaAllah… Innaalillaah… Hasbunallah wa ni’mal wakiil… Aku sudah terlanjur basah kuyup seperti ini… tasku juga basah padahal isinya adalah aset akhiratku: LAPTOP!!! (Semoga tak ada bahaya yang mengancamnya. Amin.) Lalu tiba-tiba ternyata kuliah ditiadakan… tegaaa sekaliii. Entah waktu itu siapa yang ku maksud tega sekali terhadapku… Ust. Rosyidi-nya? Tak mungkin, mana beliau tahu keadaanku? Ketua kelas-nya? Ini juga tak mungkin karena barangkali dia juga baru dapat kabarnya.

Ya Allah… tidak boleh mengeluh… tidak boleh mengeluh…

Aku berkata begitu di dalam hati. Mencoba setenang mungkin menghadapi situasi seperti ini. Aku punya dua pemikiran; beli baju baru atau…. Bagaimanaaa ini, ya Allah….

Akhirnya sudah ku buat keputusan. Aku nekat. Ku biarkan kakiku berenang di jalan yang sudah jadi sungai. Ku lihat anak-anak menikmati situasi seperti sekarang ini. Mereka berlari-lari, saling ciprat menciprati, bergaya seperti supermen kesasar di kali… Alhamdulillah, aku bisa tersenyum saat hatiku sedang kecut seperti ini. Jujur, waktu itu aku tidak marah. Hanya sekedar kecewa… Tapi aku yakin, apapun yang dijalani muhsinin tak akan disia-siakan oleh Allah.

Yah, kalau memang Allah menginginkan yang begini, JALANI AJA. Toh akhirnya nanti Allah juga yang akan memberi ‘sesuatu’ padaku. Memberi hal yang paling aku tunggu: HIKMAH!!!

Aku naik ke lantai 3, markas calon-calonnya bidadari surga, permata-permata dunia, amin…

Alhamdulillah di sana aku dapat perlakuan istimewa… terimakasih ya Allah…

Ibuku ikut pengajian sore hari itu. Ayahku menunggu di mobil. Aku turun dari lantai 3 dan menuju mobil ayahku. Biasa, kepingin diantar balik ke pondok daripada ngrogoh kocek limaribu untuk bayar tukang becak…

***

Aku semakin tahu ya Rabb…

Wahai Cintaku…

Engkau ingin mengajariku betapa Dirimu sangat pandai…. Engkau mengajari aku bagaimana aku harus bersabar. Untuk menuju “yusron” setelah “ ’usron” memang tidak seperti mengambil batu di jalanan.

Saat aku berdoa kepada-Mu… “Ya Allah, jangan sekarang hujannya. Biar aku sampai di tempat kuliah dulu… “ Tetapi Engkau dengan ‘teganya’ malah mengguyur badanku dengan rahmat-Mu yang basah, Engkau malah menjepretku dengan kilatan dari langit. Membiarkan ban sepeda motor butut bin jadul temanku menerjang arus sungai jalanan…. saat itu Engkau hendak mengajariku bersabar. Mentitahku untuk berusaha menjari jalan keluar. Engkau tidak memanjakanku. Engkau mengajari aku supaya aku kuat mendaki tebing-tebing kehidupan ini. Bahwa segala sesuatu itu butuh proses. Tidak selalu langsung didapatkan.

Aku yakin Engkau tak akan pernah berlaku buruk padaku. Meskipun bila dilihat dari zhahir, aku terjilat api, tetapi sebenarnya Engkau akan mengganti kulitku yang terkelupas dengan kulit yang lebih menawan. Meskipun aku tenggelam dalam lautan air mata, Engkau ingin mengajariku untuk berenang ke tepiannya.

Aku yakin Engkau mencintaiku selamanya, ya Allah…

Selamanya….

Terimakasih atas segala nikmat ini…

Iklan

2 responses to this post.

  1. Posted by sayyidahali on Maret 19, 2011 at 9:40 am

    Subhanallah…beruntung orang yang selalu berprasangka baik kepada Allah,dan dapat mengambil hikmah dalam setiap kejadian..salam kenal….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: