Ceritaku dimuat di Solopos, 22 Okta 2010

NASIB SEORANG GELANDANGAN

Aku tak pernah menyangka hidupku akan jadi seperti ini. Ayahku meninggal setahun yang lalu dan ibuku menyusul lima bulan kemudian. Aku tak punya keluarga lagi dan sekarang aku menjadi seorang gelandangan. Hendak ku sesali takdir, tetapi untuk apa? Toh takdir tak akan berubah dengan penyesalan.

Rumahku adalah bumi yang ku pijak. Beratapkan langit, berselimutkan angin. Kemana-mana, aku pergi mengendarai kendaraan roda dua; diriku sendiri. Bila bosan dengan arogan mentari, aku akan mencari teduh yang baik hati. Bila hujan menyapa bumi, dimana saja aku temukan naungan, aku tak akan pernah menolak.

Jangan tanya urusan makan. Kini, sudah seminggu aku tak makan. Aku berjalan terhuyung. Sakit yang begitu melilit di perutku membuatku tak kuat lagi berjalan.

***

“Nak… Bangun Naaak…”

Mataku menangkap bayangan kabur seseorang. Wajah itu semakin jelas saja. Dua ujung bibirnya tertarik ke atas. Guratan-guratan renta terpampang jelas di setiap inci kulitnya. Kepalanya yang kecil sudah berhias benang-benang putih.

Perempuan tua itu menggerak-gerakkan lenganku. Ada ubi di tangan kanannya. Ingin ku raih, tetapi sungguh tak ada daya dalam tubuh ini. Ku tutup mataku kembali. Ah, bila memang ini adalah akhir hayatku, semoga semua dosaku diampuni oleh Allah…

Oh… aku hampir melupakan satu nama itu. Allah… tiba-tiba mataku memanas, mengalirkan air yang begitu hangat. Ada rindu membuncah dalam dada. Betapa jahat diriku sekarang ini, telah melupakan sandaran hidup yang dulu pernah ayah ajarkan…

“Nak, makanlah dulu… kau pasti lapar.”

Perempuan tua itu mengulurkan jemarinya yang penuh dengan ubi. Wangi ubi itu merasuk dalam rongga hidungku. Aku membuka mulut. Inilah yang sudah seminggu aku nantikan….

***

Anugerah terindah yang ku miliki sekarang adalah semangat hidup yang muncul kembali setelah lama terpendam di dasar bumi. Adalah seorang perempuan tua bernama Ratmi. Orang yang telah menyelamatkan diriku dari lembah curam bernama keputusasaan.

“Tinggallah di sini bersamaku.”

Ucapan itu mengagetkanku. “Tidak usah, Mbah. Nanti saya malah merepotkan Mbah.”

“Lalu? Kau mau jadi gelandangan terus?”

Suara Mbah Ratmi agak meninggi. Membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Terang saja aku tak mau menggembel lagi.

“Aku sudah menganggapmu seperti cucuku sendiri. Dengan adanya kau, hidupku jadi lebih bermakna. Apa kau tega meninggalkanku?”

Aku terdiam. Tersanjung sekali mendengar kata-kata Mbah Ratmi barusan. Andai saja aku punya nenek seperti Mbah Ratmi… Tapi kata ayah dulu, ibunya sudah pergi dibawa suami barunya. Ayah sudah berusaha mencari ibunya tapi tak kunjung jua ketemu. Entah kemana nenekku itu sekarang.

“Heeiii, kenapa kau malah melamun?”

Aku tergagap. Di wajah tua itu terpancar kasih sayang yang meluluhlantakkan hatiku. Sungguh, aku tak kuasa menolak kebaikannya.

“Kau mau kan tinggal di sini?”

“Iya, Mbah. Aku akan di sini menemani Mbah.”

“Naaah, begituuu… baru cucuku…”

Dadaku berdesir mendengar dua kata terakhir itu. Entah kenapa.

***

Sudah seminggu Mbah Ratmi meninggal. Ya Allah, betapa cepat Engkau memanggilnya. Rahmatilah dia, ya Allah… Dialah yang membuatku mengingat-Mu dan kembali pada-Mu…

Semua harta Mbah Ratmi diberikan kepadaku, sesuai dengan surat wasiat yang ditulis oleh Mbah Ratmi, karena Mbah Ratmi hidup seorang diri. Keluarganya sudah tak ada lagi.

Selama aku di rumah ini, aku tak pernah masuk ke kamar Mbah Ratmi. Kini, saatnya aku membersihkan seluruh sudut rumah. Kamar Mbah Ratmi tidak begitu luas. Ku pandangi foto yang tertempel di dinding itu. Mbah Ratmi sedang tersenyum di sana bersama seorang lelaki. Mungkin suaminya.

Ada sesuatu yang terjatuh saat aku mengangkat benda-benda yang ada di dalam laci. Sebuah foto. Ku amati foto itu. Foto sebuah keluarga. Di sana ada Mbah Ratmi. Di sampingnya ada lelaki yang sama dengan lelaki yang ada di dinding. Di samping kiri Mbah Ratmi, aku tak mengenalnya. Tetapi lelaki yang ada di sampingnya lagi….

Wajah itu…

“Ayah…”

Dengan sangat tergesa, ku usap debu yang ada di foto itu supaya aku bisa melihat lebih jelas. Ternyata benar… Dia adalah…

“Ayah… bagaimana mungkin?”

 Tak ada yang menghalangi rasa penasaran ini lagi. Segera ku geledah seluruh ruangan ini…

***

Di depan kuburan ini, aku berlutut. Ku izinkan air mataku untuk keluar sebanyak-banyaknya. Ternyata perempuan tua yang selama ini menyelamatkanku adalah orang yang ayah cari-cari selama dia masih hidup.

Aku tak bisa berbuat apapun selain… menangis.

SELESAI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: