Kawan, ingatlah bahwa…

Kawan…

Mungkin kita pernah merasa capek sekali menghadapi hari yang semakin merangkak. Pelan tapi pasti. Meninggalkan jejak-jejak masa lalu tiap detiknya.

Kita juga sangat tahu bahwa kita ini sudah dinanti begitu banyak urusan yang semakin menggunung. Yang belajar, sudah ditunggu pelajaran-pelajaran yang kadang buat pusing di sekolah, belum lagi kalau ketemu dengan guru yang killer… Atau ada masalah dengan teman sepenanggungan…

Yang jadi guru, mungkin juga punya tanggungjawab yang lebih misalnya harus muthala’ah pelajaran-pelajaran yang akan disampaikan, mengurus hot money (istilah buat uang amanah yang dipegang) yang tak tahu kapan menemui ujungnya, mengecek kegiatan belajar mengajar, belum lagi kalau jadi gurunya disambi dengan kuliah, dan seabrek tanggungan lain…

Kesibukan-kesibukan itu membuat kita seakan merasa ditimpuki berton-ton beban yang beratnya nggak tanggung-tanggung, bahkan oleh malaikat sekalipun… (wuiiih, hiperduperbola, niih)

Kadang kita juga malas menghadapi kegiatan yang begitu monoton. Terbesit dalam hati ini ingin mencoba dunia yang baru; meraih cita-cita dan impian terbesar – misal menjadi seorang hafizhatul qur`an plus mujahidah pena!!! Tetapi semakin kita ingin meraih, semakin kita jatuh tersungkur ke bawah lagi dan keadaan semakin memaksa kita untuk tetap berada di tempat yang sekarang… Di hari yang begitu monoton… Di pekerjaan awal kita…

Kawan…

Dalam jalan kita yang berliku-liku, langkah kita yang tertatih-tatih, kaki kita yang berdarah-darah menapaki terjalnya kehidupan ini… Ingatlah bahwa….

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Dan Aku (Allah) bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”

Dalam ayat 2 surat Al-Qiyamah ini, Allah ingin memberitahu kita bahwa besok di hari kiamat, setiap orang akan menyesal. Baik itu beriman ataupun kafir. Penyesalan orang kafir sudah sangat jelas sebabnya, yaitu karena tak mau beriman lalu masuk neraka selama-lamanya. Tetapi, bagaimanakah penyesalan orang yang beriman? Bukankah dia sudah beriman dan Allah menjanjikan surga bagi orang beriman? Jawabnya adalah:

Dia menyesal dengan sebab dua hal, yaitu:

PERTAMA: mengapa dia tidak melakukan amal shalih yang lebih banyak dari apa yang dia lakukan sehingga surga yang dia raih pun akan lebih tinggi dari surga yang sekarang dia pijak… Dia juga sadar bahwa telah banyak waktu yang dilewatkannya di dunia dulu untuk melakukan hal yang sia-sia. Kalaupun melakukan hal yang bermanfaat, dia kurang bisa mengikhlaskan niat…menyesal mengapa tak melakukan amal shalih lebih banyak lagi? Menyesal karena kurang bisa mengikhlaskan niat…. Menyesal karena ada waktu barang sedetik yang disia-siakan begitu saja…

KEDUA: mengapa dia melakukan kejelekan… Seharusnya waktu yang dia gunakan untuk melakukan kejelekan di dunia itu dimanfaatkannya untuk melakukan kebaikan saja…. Sehingga dia akan mendapatkan surga lebih tinggi dari yang dia tempati dan tak perlu masuk dalam neraka duluan…

Itulah, kawan…

Kita musti sadar bahwa sekecil apapun kebaikan harus kita usahakan, supaya kita tak menjadi orang yang menyesal di hari kiamat. meskipun itu tidak mungkin -karena kita pasti melakukan dosa- tapi paling tidak ada usaha dari kita untuk memperbaiki diri, supaya besok kalau harus menyesal, maka penyesalan itu tidak begitu dahsyat dan kita bisa beralasan di hadapan Allah.

Kawan…

Kemalasan itu pasti datang dalam kehidupan ini. Serajin-rajin orang pasti pernah malas… Tetapi yang membedakan hanyalah sikap mereka dalam menghadapi kemalasan itu. Sebab orang yang malas tak akan merasa bermasalah saat dia malas. Sedangkan orang yang rajin, akan selalu berusaha supaya malasnya tidak keterusan… Dia ingin mengakhiri kemalasan itu dan segera bangkit kembali… Begitu pula sebaliknya, semalas-malas orang, pasti pernah rajin. Tetapi yang membedakan hanyalah sikap mereka dalam menghadapi kerajinan itu. Sebab orang yang rajin akan selalu berusaha untuk istiqomah dan orang yang malas akan tidak akan merasa bermasalah bila kerajinan itu meluntur dari dirinya…

Capek itu, Kawan…

Memang harus dirasakan oleh orang beriman. Orang yang mengaku beriman tapi tak pernah capek malah harus dipertanyakan. Sebab dunia ini memang menjadi lahan bercocok tanamnya orang beriman untuk memanen hasilnya nanti di akhirat. Semakin baik dan banyak bibit yang kita tanam di dunia, semakin baik dan banyak pula hasil panenan kita di akhirat, asal tidak dimakan hama berupa riya`, hasad dan seabrek penyakit hati lainnya (=hati-hati! Waspada! Warning!). Ma’adzallah…

Bila kita punya cita-cita yang tinggi, dan kita belum bisa mendapatkannya, ingatlah bahwa Allah punya beribu alasan yang sangat bijak untuk menunda cita-cita kita. Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat kita. Mungkin saat ini Allah belum menganggap kita cocok untuk menggapai cita-cita. Allah meminta kita untuk menyelesaikan masalah yang sekarang kita jalani dulu. Baru bila kita telah lulus, Allah akan memberi apa yang Dia pandang baik untuk kita…

Nikmati saja, Kawan, setiap fase dalam hidup ini… Jangan jadikan beban setiap kejadian, karena suatu hari nanti, kita akan merindukan masa kita yang sekarang. Bahkan kita akan menyesal bila kita tak melakukan yang terbaik saat ini… Maka mari kita lakukan yang terbaik!!

Siang tanpa terik mentari,

10 Dzul-Q 1431

18 Okta 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: