Nilai Akademik Versus Akhlaq Baik

Pagi itu, setelah aku mengikuti kajian Shahih Bukhari di sebuah masjid, aku menunggu adikku untuk pulang. Maklum aku belum bisa mengendarai sepeda motor. Jadi musti dibonceng. Tak apa. Belum diizinkan oleh Allah. Nanti kalau sudah waktunya, pasti aku bisa.

Aku menunggu dia lama di perempatan jalan. Lima menit, sepuluh menit, seperempat jam, lalu aku mulai bosan. Hatiku mulai kesal. Ku layangkan pandanganku ke arah di mana dia pasti muncul darinya. Tapi tak jua ada. Kini yang muncul adalah salah seorang ustadzku. Namanya Ustadz Joko. Beliau membawa bungkusan warna coklat, sebesar ukuran kertas HVS. Saat melintas di depanku, beliau berkata,

“Nilai bahasa Arab nih. Mau lihat?”

 Aku tersenyum girang. Tentu saja aku mau melihatnya. Belum sempat ku dapatkan berapa nilaiku, Ustadz Joko bilang,

“Sembilan.”

Satu kata itu mampu membuat ujung bibirku tertarik ke atas. Bagus nian. Tapi setelah aku cari dan lihat sendiri…

“Delapan, Ustadz. Bukan sembilan…”

Ada guratan kecewa dalam deret kataku, meski aku masih tersenyum. Dalam hati aku sempat berkata kenapa nggak sembilan atau delapan setengah? Kenapa aku ada di urutan ketiga? Ini kurang buatku! Bahasa Arab itu mudah materinya… Kenapa bisa cuman dapat delapan…

Aku ingat-ingat kembali ada apa dengan diriku saat ulangan…

Ah ya! Waktu itu, dari segi fisik dan mental aku kurang fit. Mengingat ada masalah yang menimpaku saat itu. Masalah yang membuatku sedikit goyah menapaki kehidupan ini. Tapi cuman sebentar. Aku akan selalu ingat bahwa aku punya Allah Yang menakdirkan segalanya…

Kalau saja waktu itu aku betul-betul siap, mungkin aku akan dapat sembilan. Atau kalo nggak ya delapan setengah…

Tiba-tiba ada hati yang berbisik…

“Sombong, kau, Fa! Kata-katamu itu secara nggak langsung udah menafikan Allah! Dan bisa diartikan bahwa kau merasa pinter… Cuman waktu itu ada masalah, kamu jadi down. Kamu mau bilang kan bahwa harusnya kamu bisa sama dengan mereka atau bahkan lebih tinggi???”

Astaghfirullahal ‘azhim… Istighfar itu tak henti ku ucap dalam hati. Aku memang tak mengatakan demikian. Tetapi bilamana memang benar aku bisa saja Engkau nilai begitu, ya Allah, maka ampunilah…, maafkanlah…. Ya Allah, bilamana aku Engkau nilai telah sombong, maka maafkanlah aku. Aku tak akan mengulanginya lagi…

Sebentar kemudian hatiku yang lain bilang,

“Kenapa kamu nggak lihat ada nilai yang di bawahmu? Lihat, dia dapat tujuh… Dia dapat lima setengah…”

Aku semakin tak berkutik…

“Harusnya dengan melihat nilai yang di atasmu, kau semakin bersemangat belajar. Bukan mengatakan hal seperti itu. Kamu jadi sok nyalahin takdir…”

Astaghfirullahal ‘azhim…

“Dan harusnya lagi, dengan melihat nilai yang ada di bawahmu, kau harusnya bersyukur masih berada beberapa tingkat dari mereka…”

Ya Allah… Maafkanlah…

***

Nilai akademik memang terkadang membuat kita lupa bahwa yang terpenting dalam belajar bukan untuk mencetak nilai. Bukan berlomba mengejar gelar. Tetapi mengamalkan apa yang sudah kita pelajari.

Buat apa belajar bertahun-tahun, datang ke majlis-majlis ta’lim, kalau apa yang kita pelajari tidak kita amalkan?

Buat apa nilai mumtaz bila ilmu din yang kita pelajari tak membekas dalam setiap amal dan akhlaq kita bahkan di balik itu ada setitik kesombongan?

Buat apa menjadi bintang bila ternyata berakhlaq setan?

Buat apa mendapat gelar, tapi ilmu yang menjadi pengantarnya lupa semuanya?

Besok di hari kiamat, bukan nilai yang akan ditanyakan oleh Allah. Bukan gelar atau jabatan. Bukan kekayaan atau kemewahan. Tetapi yang akan ditanyakan adalah sudah berapa banyak usaha kita untuk belajar, berusaha mengerti din Al-Islam ini dan apa yang sudah kita amalkan dari semua yang kita pelajari dan kita mengerti… Sebanyak apa amalan-amalan kita di dunia ini dan seberapa ikhlas kita beramal…

Ini bukan berarti kalau begitu kita boleh seenaknya sendiri, dapat nilai bebek juga nggak masalah, dapat nilai telor malah siap-siap untuk nggoreng… Bukan! Bukan itu, kawan…

Maksud dari tulisan ini adalah jangan menjadikan nilai sebagai orientasi pertama dalam mencari ilmu. Terkadang memang nilai itu dibutuhkan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kita. Tapi sekali lagi: NILAI BUKAN PRIORITAS!

Bisa saja orang yang nomer satu nilai akademiknya tetapi tetep aja miskin akhlaq. Sama yang lebih tua seenaknya sendiri, sama yang lebih muda menginjak-injak, meludah di sembarang tempat dan nggak dihilangin jejaknya, menguap selebar-lebarnya, nggak ghaddul bashar, nggak menghargai kerja keras orang, nggak sabaran, pinginnya menang sendiri, de el el, pokoknya banyak bangeettzzz…

Namun, ada juga yang nilainya pas-pasan, tapi dia begitu rendah hati, sabar, tenang, penuh kasih sayang kepada orang lain, de es be… Ini juga buanyuaak…

So, kita pilih mana? Yang nilainya tinggi tapi akhlaqnya kerdil atau yang penting akhlaq baik meski nilai nggak tinggi-tinggi amat?

Yah, mestinya pilih yang nilai tinggi dan akhlaqnya baik….

Untuk ke sana, kita perlu latihan ekstra. Perlu untuk susah-susah dulu melatih diri sendiri untuk jadi yang nomer satu tetapi tetap berkepribadian shalih lahir dan batin…

Rabbanaa… Yassir bi khairin, amin…

Iklan

2 responses to this post.

  1. Posted by Tyas on Januari 21, 2012 at 3:44 pm

    Izin share ya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: