Kebaikan Itu…

Waktu itu, malam telah merangkak. Pelan tapi pasti. Bulan yang masih seperti alis menjadi saksi langkahku bersama seorang teman yang saat itu keluar dari kompleks pondok hendak mencari sesuatu untuk sahur. Beberapa meter dari tempat kami mengajar, ada sebuah toko klonthong. Sesampai kami ke sana, kami membeli sedikit makanan.

Seorang lelaki tua muncul, menjejeriku. Bajunya lusuh meski masih layak pakai, wajahnya suram, matanya merah, rambutnya pendek beruban… Aku tak memperdulikannya. Bagiku, dia seperti halnya pembeli-pembeli lainnya.

Penjaga toko itu menghitung total pembayaran belanjaanku. “Sepuluh ribu lima ratus, Mbak.”

 “Oh, ya.”

Ku sodorkan dua lembar uang sepuluh ribuan. Batinku, tanggung amat lima ratusnya… Temanku juga tak bawa lima ratus perak. Bawanya sepuluh ribu sama denganku. Ya udahlah biar dikasih kembalian. Setelah penjaga toko itu menaruh uangnya, dia kembali padaku. Ku kira, dia akan memberi kembalian. Tetapi ternyata dia mengembalikan selembar uang sepuluh ribuanku.

“Udah mbak, dibawa dulu aja. Nggak ada kembaliannya, nih.”

Sontak, aku bingung. Ada perasaan tak enak menjalar dalam hatiku. Kupandangi temanku yang juga kebingungan menyaksikan kejadian ini. Tiba-tiba (lagi-lagi) tanpa ku duga, seorang lelaki tua yang ada di sampingku berkata,

“Sudah, nanti ikut uang saya saja. Biar saya yang membayarkan.”

MasyaAllah… Kebingungan ini semakin bertambah. Bukankah dia sebetulnya juga butuh uang? Justru aku harusnya yang menawarkan jasa. Lihat saja penampilannya yang memprihatinkan! Lha sekarang? Ya Allah, malah dia yang memberi jasa, padahal kita tak saling kenal… Aku malu… Bingung; mau nolak, tergambar diriku harus balik lagi ke toko ini dengan membawa uang senilai 500 perak… Kalau nerima ya nggak enak dalam hati ini…

Malam semakin larut, tak kuasa aku tuk menghentikannya. Akhirnya, aku dan temanku berlalu dari toko itu setelah mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kebaikan pak tua itu. Di sepanjang jalan pulang, bibir ini tak berhenti mengucap tasbih… Subhanallah…. Subhanallah… Subhanallah… Balaslah dia dengan yang lebih baik dan berlipat, amin.

***

Siang yang begitu terik membuat kulit punggung tanganku semakin coklat. Semakin terlihat pula perbatasan belang di pergelangan tangan. Peluh pun membanjiri tubuhku. Aku berhenti di kiri jalan, bersiap-siap untuk menyeberang. Toko yang ku tuju sudah ada di depan mata.

Lama ku tunggu jalan raya sepi. Tapi kendaraan yang berlalu lalang tak mungkin untuk dipisah oleh pengendara sepeda onthel sepertiku. Padahal panas mentari sudah menembus pori-pori kepalaku…

“Mau nyebrang, Mbak?” Seseorang berseragam tukang parkir menanyaiku.

“Nggih, Paaak…” Jawabku, seramah mungkin seraya menyipitkan mata, tak kuat harus beradu dengan panas.

Dengan sigap, bapak separuh baya itu membentangkan dua lengannya, menuju ke tengah-tengah jalan raya. Dan sekejap, jalan untuk menyebrang terbuka untukku. Ku lewati beliau dan tak lupa ku berikan senyuman dan ucapan terima kasih. Dalam ayuhan sepeda ini, ku lantunkan tasbih di dalam hati… Subhanallah… baik sekali orang itu…

***

Dua kisah di atas adalah sebagian kisah yang disuguhkan oleh Allah dalam kehidupanku. Entah mengapa, setiap kebaikan seseorang yang sampai kepadaku, selalu membuat hatiku haru… Kebaikan siapapun dan dalam bentuk apapun…

Tak pernah mereka sadari, mereka telah mengajarkan dan mengingatkan aku bahwa seseorang itu harus selalu main peka terhadap keadaan…. bahwa siapapun yang membutuhkan pertolongan berhak untuk ditolong dan tolonglah tanpa pamrih, tolonglah tanpa harus merasa malu atau kecewa bila pertolongamu ditolak… Kebaikan itu tak harus dari atau kepada orang yang setara ilmunya, atau teman, atau seseorang yang dikenal…

 Tetapi…

KEBAIKAN ITU… DATANG TAK PANDANG BULU; DARI SIAPA, KEPADA SIAPA DAN DALAM BENTUK APA.

Tugas kita hanya satu; mengamalkan apa yang Rasulullah sas. sabdakan:

LAA TAHQIRANNA MINAL MA’RUUFI SYAI`A

“Sungguh benar-benar jangan kalian remehkan sesuatu yang baik sama sekali.”

Rasulullah sudah jauh-jauh hari membimbing kita bagaimana supaya kita menjaga perasaan saudara kita. Bila ada yang memberikan kebaikannya seremeh apapun, kita tak boleh meremehkan. Sebab, siapa yang tahu kebaikan yang remeh itu ternyata sangat berharga bagi hati pemberi… Dan bila diremehkan, tentu pemberi akan hancur hatinya… Rasulullah sangat menjaga hal itu…

Maka dari itu, Kawan…

Mari kita ingat dua hal, bahwa:

• Mereka saja bisa peka kepada orang lain yang membutuhkan bantuan, mengapa kita tidak?

• Kebaikan orang lain sekecil dan seremeh apapun, DILARANG UNTUK DIREMEHKAN.

Ya Allah, berikanlah kemudahan padaku, pada semua saudaraku di manapun mereka berada, untuk selalu bisa mengamalkan sunnah Rasulullah sebagai bentuk rasa cinta kami pada beliau… Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: