Pagi datang, Ibroh pun Menjelang…

Pagi yang cerah ketika ku melangkahkan kaki hendak menyelesaikan urusan-urusan di sebuah maktabah tempat aku menanam saham akhirat. Ku buka pintu gerbang dengan warna yang paling ku sukai itu; hijau… aduhai maktabah yang ku rindukan… Lama sekali aku tak menginjakkan kaki di sini. Aku yakin maktabah ini juga rindu padaku…

Ku langkahkan kakiku ke dalam. MasyaAllah, berantakan sekali. Harus dirapikan, ini… Setelah minta izin, akhirnya aku dan temanku merapikan buku-buku itu.

Seorang agen datang. Dia hendak mengambil buku-buku untuk dijual. Selain agen, banyak juga teman yang berkunjung, meski hanya sekedar melihat dan berkenalan dengan maktabah yang masih bayi ini… tapi aku senang mereka datang.

Saat aku menata buku-buku, ku dengar salah satu dari mereka berkata di luar maktabah, ”Aku pingin lihat PWM seperti apa.”

Dengan riang, aku menjawab, “Iya, silakan masuk aja.”

Temanku masuk dan aku kembali sibuk lagi. Perhatianku tak teralih kalau saja temanku tadi tidak mengatakan…

“Masih miskin begini kok ya bagi-bagi mush-haf gratis segala…”

Spontan aku menoleh, memandanginya (tapi dia tak memandang padaku). Ya Allah, aku merasakan desiran dalam jantungku. Sebuah desiran yang lebih tepatnya dinamakan dengan rasa tersinggung…

Entah aku yang terlalu perasa atau memang benar-benar pantas aku tersinggung. Aku merasa maktabah yang sangat ku sayangi ini… diremehkan begitu saja…

Ku dengar lagi teman yang lain menjawabnya, “Lha wong itu juga ke’ke’an… (pemberian).”

Aku tergugu. Benar-benar tergugu. Aku berontak dalam diam. Aku benar-benar tak terima maktabah ini diremehkan begitu saja.

Teman yang lainnya lagi menimpali, “Ooo ke’ke’an… makanyaaa… “

Astaghfirullah… Aku beristighfar berkali-kali dalam hati…

Aku benar-benar tak terima dengan semua ini…

Tanganku tetap menata buku-buku yang akan diambil oleh agen. Tetapi hatiku sibuk menjawabi perkataan mereka…Tak ada yang tahu gemuruh dalam hati ini, kecuali Allah…

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ.

 

Dari Abu Dzar bahwasanya sekelompok dari kalangan sahabat Nabi sas. Berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, orang-orang yang punya harta banyak itu sudah pergi membawa pahala yang banyak pula. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami puasa. Tetapi mereka bisa bersedekah dengan kelebihan-kelebihan harta mereka…

Lihatlah para sahabat! Mereka dengan keterbatasan materi ingin menjadi seperti mereka yang punya kelebihan materi supaya bisa bershadaqah dan nggak kalah banyak pahalanya. Kalaupun mereka nanti ternyata punya sedikit saja sesuatu yang bisa mereka shadaqahkan, pasti mereka akan menyadaqahkannya! Buktinya di zaman Rasulullah dulu, ada sahabat yang diejek oleh orang munafik karena hanya menyadaqahkan sedikit hartanya karena yang dipunyai memang sekian itu. Ini menunjukkan bahwa para sahabat tak peduli seberapa yang akan mereka shadaqahkan.

Lantas apakah mereka dihina dengan sebab itu? Apakah mereka lantas dikatakan, “masih miskin saja mau shadaqah?” Tidak! Sama sekali tidak ! Justru itu malah menambah kemuliaan dan kewibawaan mereka.

Bukankah dengan shadaqah, harta akan semakin bertambah? Bukankah harta kita yang sebenarnya adalah apa yang kita shadaqahkan itu dan yang tidak kita shadaqahkan itu milik ahli waris kita?

Bukankah Allah Ta’ala juga telah berkalam:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ (11)

 Dan barangsiapa yang meninfakkan (hartanya di jalan Allah) dengan baik, maka Allah akan melipatgandakan baginya, dan baginya ada pahala yang besar.

Mush-haf itu memang bukan dari maktabah secara murni. Itu memang pemberian orang lain. Bila saja mushhaf-mushhaf itu memang dari maktabah, salahnya apa bila maktabah memberikannya secara cuma-cuma? Bukankah itu sebuah prestasi yang pantas mendapatkan kata: SUBHANALLAH dari yang mengetahuinya?

Aku yakin, bila maktabah mau pasti maktabah akan mengirimnya ke sebuah tempat yang akan mengubah mush-haf-mush-haf itu jadi uang… But what? Maktabah tidak melakukannya! Malah memilih untuk membagikannya secara cuma-cuma…

Begitulah pagi yang ku lalui. Aku mencoba untuk husnuzhzhan, mencari hikmah dari kejadian ini. Yah, mungkin dengan ini, aku bisa ingat sabda Rasulullah. Bagaimana keadaan para sahabat beliau yang sangaaaat mengagumkan…. Secara tidak langsung, mungkin Allah sengaja menegurku untuk mencontoh Rasulullah dan para sahabat beliau, yang di tengah kesederhanaan mereka, mereka masih tetap berbuat baik. kebaikan mereka tak tergantung oleh waktu, keadaan, tempat, kondisi, situasi, dan lain sebagainya…

Ya Allah, maktabah ini memang masih bayi, tetapi keberkahan itu tak musti pada sesuatu yang besar… Sadarkan kami benar-benar bahwa sesuatu yang besar itu bermula dari sesuatu yang kecil sehingga kita tak boleh meremehkan satu kebaikan sekecil apapun…

Ya Allah, aku berharap kepada-Mu agar Engkau mewujudkan harapan-harapan kami tentang sebuah bayi berupa maktabah, semoga di esok hari suatu saat nanti, maktabah itu akan lebih banyak memberikan manfaat kepada Islam dan muslimin, amin ya Rabbal ‘Alamin…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: