Aku sungguh sangat kagum dengan….

Allah Ta’ala berkalam dalam surat Ali-Imron ayat 133-135….

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)

 

Dan bersegeralah kalian menuju kepada ampunan Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi, yang sudah dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa (135)

(Orang-orang yang bertakwa itu adalah) orang-orang yang meninfakkan hartanya dalam keadaan senang maupun susah, yang menahan kemarahannya dan mudah memaafkan orang lain. Dan Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat baik (134)

Dan orang-orang yang apabila memperbuat kesalahan atau menzhalimi diri mereka sendiri, mereka mengingat Allah lalu mereka meminta ampun atas dosa-dosa mereka. Dan tak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Allah. Mereka juga tidak berterus-terusan dalam perbuatan salah mereka padahal mereka mengetahui (135)

Aku sungguh sangat kagum dengan ayat ini. Sering saat menjadi imam, ku baca ayat-ayat ini. Tujuanku supaya santri-santriku pada bertanya-tanya tentangnya lalu mereka ingin tahu artinya. Dengan itu, aku berharap mereka mau mengamalkannya…

 

Di dalam ayat itu, Allah Ta’ala menghasung kita untuk banyak berbuat baik, untuk mentaati-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semua itu Dia perintahkan untuk kebahagiaan kita sendiri. Supaya kita dapat menggapai surga-Nya, yang luasnya seluas langit-langit dan bumi, supaya kita dapat kebahagiaan yang hakiki lagi kekal. Subhanallah, betapa sayang Allah pada kita. Biasanya, seorang majikan itu, memerintah bawahannya untuk kebahagiaan majikan itu sendiri. Tapi Allah? Dialah sebaik-baik atasan, Dialah sebaik-baik majikan. Memerintah bawahan untuk kebahagiaan mereka.

Surga adalah sebuah tempat tinggal, yang tak sembarang orang dapat menempatinya. Hanya orang-orang yang memiliki sifat mulia saja yang bisa masuk ke dalamnya.

Siapakah orang-orang itu?

        Orang-orang itu adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya ikhlas karena Allah. Baik saat mereka dalam keadaan nggak punya banyak duit, tongpes alias kantong kempes apalagi pas kantongnya molor karena kebanyakan isi… perbuatan baik mereka tak tergantung oleh zaman, keadaan, waktu, tempat atau apapun. Mereka tetap baik kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun…

Subhanallah, pantesan mereka jadi penghuni surga…

        Orang-orang yang bisa menahan amarah mereka. Pas sebel, mangkel, anyel, kesel, mereka bisa meredamnya, seakan mereka sudah siap dengan air selaut untuk mengguyur rasa marah yang memenuhi dada-dada mereka… Orang-orang pada nggak tahu bahwa sebenarnya giginya gemeretak saking marahnya… di tengah gigi yang gemeretak itu, dia masih bisa tersenyum dan tertawa (gimana ya bentuknya… 🙂 )

Tapi pembahasan ini tidak berlaku bila marahnya karena syari’at Allah yang dilanggar. Kalau yang dilanggar syari’atnya Allah, ya emang kudu siapin tanduk banteng buat ngadepinnya…

Marah di sini adalah marah yang alesannya karena hak-hak kita yang nggak dipenuhin. Misalnya, kita jadi anak kok seringnya dimarahin orang tua, padahal kita sudah merasa mematuhi mereka sekuat tenaga… Redam amarah dengan keyakinan bahwa orang tua nggak boleh sama sekali dibentak, harus dipahami dan walau bagaimanapun, orang tua tetap sayang pada anaknya, hanya saja mungkin antara satu ortu dengan ortu lainnya, beda-beda cara ungkapin kasih sayang. Ingat selalu kebaikan orang tua mulai dari kita belum ada sampai kita sebesar ini.

Misalnya lagi, kita punya gelas cantik nan mahal yang baru aja di tengah siang bolong, kita beli dari sebuah toko yang untuk ke sana kita harus ngeluarin banyak tenaga buat ngayuh sepeda onthel. Sudah kita angan-angankan punya gelas seperti itu dengan ngumpulin uang saku dan ketika kita baru memilikinya, tiba-tiba ada seorang teman yang tidak sengaja menyenggol gelas tersebut dan akhirnya kita harus melihat gelas itu sudah jadi serpihan… Belum juga kita pakai… Redam pertama kali dengan ta’awwudz… lalu doa “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma`jurni fii mushibati wakhluf lii khairan minha” (Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kita kembali, Ya Allah, ganjarlah aku dalam mushibahku ini dan gantilah dengan yang lebih baik untukku). InsyaAllah, kalau kita pertama kali ucapkan ini, kita bisa tersenyum di tengah kekecewaan kita. Walaupun setelah itu, kita akan menumpahkan segala rasa kecewa dengan diam, atau bahkan dengan menangis tersedu-sedu di hadapan Allah….

Misalnya lagi, kalau kita butuh jawaban sms dari teman yang kita harap bisa menenangkan kita dan menyelesaikan masalah, ternyata si teman malah nggak jawab-jawab… dan menganggap sms kita nggak perlu dijawab karena nggak darurat… Redam kemarahan dengan husnuzhzhan. Barangkali dia baru sibuk. Barangkali ketiduran. Barangkali dan beribu barangkali baik yang lain yang bisa menenangkan hati kita sendiri.

Betapa pantas orang-orang seperti ini menjadi penghuni surga. Orang-orang yang mengguyur kemarahan dengan segala sesuatu yang meridhakan Allah…

        Mereka mudah maafin kesalahan orang.

Mudah maafin orang di sini bukan berarti kalau dijotosin diem aja. Dirampok malah meringis. Kalo cewek, disuitin sama cowok malah ganti nyuitin, hiii na’udzubillah….. (apa hubungannya sama maafin kesalahan orang.. Apa hayo J ). Bukaaan.. bukan itu…

Maksudnya mudah maafin kesalahan orang itu, kita ngelonggarin orang yang berbuat salah sama kita dan kita sendiri juga tidak dirugikan. Kalau kita dizhalimi, kita boleh membela diri asal tidak melampui batas. Kalau udah membela diri dan yang zhalimin kita udah taubat ya udah. Nggak usah diterusin marahnya.

Poin ini masih ada sangkut pautnya sama poin yang di atas. Jadi, kalo poin yang di atas tanpa poin yang ini, bisa saja menahan marah tapi masih dendam. Kalo poin yang ini tanpa poin yang diatas, bisa aja maafin orang tapi setelah marah-marah nggak karuan. Poin yang ini dan poin yang di atas, saling melengkapi dan mendukung. Kalo poin ini dan poin yang di atas bersatu, jadinya bisa nahan marah dan bisa maafin orang lain. Bingung ya berpoin-poin riaaa… kalau bingung, coba baca pelan-pelan. Dijamin nggak bakal bingung lagi, insyaAllah.

Coba kita rasakan, kita renungin dan kita lihat lagi. Kalau kita berbuat salah kepada seseorang, trus orang tersebut maafin kita, nglonggarin kita, nglupain kesalahan kita… apa yang kita rasakan? Pasti hati kita rasanya ayeeem banget kayak tenggorokan yang disiram air es setelah puasa… segeeer banget. Kalau kita seneng diperlakukan demikian, mengapa kita tak melakukannya pada orang lain? Ingat, kawan… Kehidupan ini menyuguhkan gema pada setiap pemiliknya. Bila kita mengeluarkan suara “A”, kita akan mendengar suara “A” memantul dan ditangkap oleh telinga kita. Begitu juga kalau kita melakukan perbuatan baik, maka kehidupan pun akan mengembalikan kebaikan itu pada kita. Kalau kita berbuat buruk, maka kehidupan pun akan mengembalikan keburukan pada kita. So, yakin deh, antum sekalian tahu apa yang musti dilakukan….

Kawan, Allah berkalam “Wallahu yuhibbul muhsinin” yang artinya Dan Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat baik. Jadi, kita tahu dari sini, bahwa orang-orang yang melakukan 3 hal di atas, mereka tergolong orang-orang muhsin. Siapa yang mau dicintai Allah, harus memenuhi syarat dulu. Apa itu? Jadilah seorang MUHSIN!

Allah tidak hanya mencukupkan sifat-sifat ahli jannah dengan tiga hal di atas. Pokoknya yang berbau baik-baik itu pasti jadi bumbu jannah. Ada sifat lain yang Allah kalam-kan dalam ayat selanjutnya:

        Kalo berbuat salah, nglakuin dosa, zhalimin diri sendiri dengan maksiyat, mereka akan langsung mengingat Allah. Nggak cukup inget aja. Tapi juga istighfar, minta ampun kepada Allah karena dia sadar nggak ada yang bisa ngampuni dosa selain Allah. Di sini juga termasuk orang yang nglakuin salah trus ingetnya sama Allah habis diingetin orang lain. Jadi nggak harus selalu dari dirinya sendiri. Bisa dengan dinasehatin sama orang lain lalu dia kembali pada Allah, bisa juga dia diingetin sama hati kecilnya sendiri. Nah, habis istighfar, dia nggak akan ngulangin lagi salahnya itu. Dia tahu kalo dia salah dan dia segera taubat dan nggak pernah nglakuin kesalahan lagi.

Macam-macam salah itu banyak banget. Misalnya: pacaran, nggak ghaddul bashar, suka nyinggung prasaan temen, nggak jaga hati, daaaan massiiiih banyak lagi.

Kita semua pasti pernah salah. Kita pasti pernah lupa. Karena kalo nggak kayak gitu, kita mungkin nggak dinamain manusia… makanya, siapa saja yang pernah bermaksiyat pada Allah, jangan pernah putus asa! Pintu taubat dari Allah selalu terbuka lebar bagi orang-orang yang bener-bener mau kembali dan menyesali kemaksiyatannya. Asalkan kita segera kembali dan nggak ngulangi kesalahan lagi, insyaAllah, kita pasti diampuni sama Allah…

Itulah kawan, yang membuat aku kagum dengan ayat-ayat Allah yang ini. Ayat-ayat yang mengajari kita kecerdasan emosional atau bahasa kerennya Emotional Qoutiens. Jauh-jauh hari Allah udah ngajarin kita bagaimana seharusnya berakhlak dengan sesama hamba Allah.

Maka dari itu, yuk kawan-kawan, kita amalkan ayat-ayat ini supaya kita bahagia lahir dan batin…

Iklan

6 responses to this post.

  1. nice info….

    semoga kita selalu beriman dan menjadi salah satu penghuni surga.

    salam kenal 🙂

    Balas

    • Amiin, ya Rabbal ‘Alamin. Jazakumullah khair telah berkunjung ke blog saya yang pas-pasan ini…

      kita berdua kok salah satu? ya salah dua dooonk… 🙂

      Pakai Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh lebih baiiiiikkk dan leeebiiih berpahalaaa….

      Balas

  2. Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh

    maksudnya begitu. hehe.. salah dua. 🙂

    maaf tadi gak pake salam.

    Balas

  3. Posted by fadhilah on Agustus 28, 2010 at 9:22 am

    Wa’alaikumus Salam Warahmatullah Wa barakatuh..
    Alhamdulillahu Rabbil ‘alamin.

    Balas

  4. Posted by Rean on Januari 28, 2011 at 8:14 am

    Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh wa maghfiratuh….

    Subhaanallaah…..kug malah salah salah an tu di atas??

    Ukhti….semoga Allah selalu menjaga dan membimbing kita pada jalan yang benar…

    kata suatu kalimat hikmah
    “man hafidzol fu’aad hufidzo minal fasaad”

    Balas

  5. Amin… jazakumullah khairan atas doa dan kunjungannya ke blog ana yang pas-pasan ini….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: