ceritaku dimuat di solopos -16 Juli 2010

PENYESALAN

Aku benci sekali hari ini. Bagaimana tidak? Ibu membuat peraturan baru. Habis sekolah harus tidur siang. Padahal, aku ada janji sama Alfina mau belajar kelompok di rumahnya. Waktu aku bilang ke Ibu, Ibu tak mau percaya padaku.

“Ngakumu belajar. Tapi nanti tahu-tahu sudah mejeng di Solo Square. Mana Ibu kasih izin? Kamunya udah nggak bisa dipercaya.”

Emang benar sih, kemarin begitu. Tapi sekarang tidak! Kali ini aku bener. Aku butuh belajar kelompok. Besok, latihan kimianya harus dikumpulkan. Aku baru mengerjakan seperempatnya. Itu pun entah salah entah bener. Ya sudahlah. Alfina saja yang disuruh kemari.

“Kenapa nggak bisa, Al?”

Di seberang sana, Alfina menyatakan ketidaksanggupannya datang ke rumahku. Katanya, Ibunya sakit. Tak ada yang menemani. Ku jatuhkan badanku di kursi. Seakan aku menopang beban beribu-ribu ton di pundak. Aku benci ibu!

***

Sore ini ada pengajian di rumah tetangga sebelah. Ibu mewajibkan aku ikut. Hhhh! Kayaknya enak sekali jadi Ibu. Tinggal nglarang ini perintah itu… Kayak raja merintah budaknya.

“Mira, jangan lupa pakai kerudung yang rapat. Jangan hanya pakai slampiran saja. Dan lagi, catat apa yang kamu dapat dari Ustadznya. Nanti setelah pulang, Ibu tanyain.”

Tuh, bener kan? Tinggal dekte! Enak banget jadi Ibu.

***

“Cuci piringmu sendiri, Mira! Kamu sudah kelas dua SMP. Masak masih ngandalin Ibu? Mulai besok, cuci sendiri bajumu. Setrika sendiri. Kamu juga musti nyapu lantai. Ngepel. Ingat, belajar jadi orang rajin dan bersih.”

Begitulah, sejak Bik Nah tak lagi bekerja di rumahku. Aku kini benar-benar merasa jadi pembantu. Aku benci sekali dengan keadaan ini. Benci sekali. Tega-teganya Ibu memperlakukan aku seperti ini. Aku benci!!!

***

“Mira, tolong belikan Ibu sayur-sayuran yang dijual di warung Teh Mini! Ibu nggak bisa belanja.”

Aarrghh! Lagi-lagi perintah!

“Aku lagi sibuk, Buu!”

“Sibuk apa sih? Wong kamu lagi nonton TV gitu.”

Iya! Memang sibuk nonton acara kesukaanku ini.

“Sebentar, Buu…”

“Sekarang, Mira! Ini udah jam sebelas. Sebentar lagi makan siang.”

Hiiiih, brisik banget, sih! Biar saja. Aku diam saja. Sayang dooonk, kalau aku lewatkan kejadian Angga dengan Firna. Oh, heyy… mereka jadian. So sweeet!! Aku bertepuk tangan. Asyik, akhirnya mereka bersatu juga. Dasar Angga! Udah cinta kenapa ditutup-tutupin? Nggak usah gengsi doonk… dan Firna juga tuu, main malu-malu segala…

Habis ini sinetronnya apa ya? Oh iya Di Sini Ada Sule! Sip lah! Ketawa yuuk ketawaa.

Di Sini Ada Sule sudah selesai. Apa lagi ya habis ini?

***

Ting toongg!!!

Eh, ada yang ngebel. Siapa sih? Gangguin aja.

Ting toongg!!!

“Ibuu…. ada tamu tuu…” Aku berteriak sekencang mungkin. Sesebel mungkin.

Ting tooongg!!!

Aahhh!!! Ibu kemana sih? Akhirnya, ku turuni tangga. Menuju ruang tamu. Membuka pintu. Dan ku dapati banyak orang berkerumun di halaman rumahku yang agak sempit. Aku dapat melihat bingung di wajah-wajah mereka. Spontan aku bertanya,

“Lhoh, ada apa ini?”

“Anu Diiik… Ibumu…”

Dahiku terlipat-lipat. “Kenapa Ibu? Ibu ada kok di rumah.”

“Enggak, Diiik… Ibumu kecelakaan…”

“Apa?”

***

Aku termenung sendiri di samping ranjang putih, tempat seseorang yang sangat ku cintai berbaring. Seseorang yang sangat aku cintai, sekaligus yang selama ini banyak ku gerutui. Aku pegang erat telapak tangannya. Berharap, barangkali kekuatan dalam tubuhku ini bisa membuatnya sadar.

Ya Allah, apa yang barusan aku lakukan? Jadi saat aku kegirangan melihat racun -kata Ibu TV itu racun- Ibu tengah kesakitan sampai tak sadarkan diri.

Semua slide kejadian sebelum ini sudah berkali-kali muncul dalam benakku. Semua andai-andai yang antri di dalam pikiranku sudah aku ucapkan. Andai aku mau disuruh beli sayuran, andai aku ingat saat itu kaki ibu memang sedang keseleo, andai aku tak nonton TV, andai dan andai.. Ku abaikan nasehat ibu bahwa berandai-andai itu tak boleh. Habis bagaimana? Aku bingung. Aku tahu itu tak bisa membuat waktu balik mundur lagi. Tak merubah apapun sesuatu pun. Ibu belum sadar sampai sekarang. Sampai malam tiba. Sampai Ayah datang.

Ku peluk ayahku kuat-kuat. Ku tumpahkan semua tangisku dalam rengkuhannya. Tangis yang sejak tadi ku simpan, ku tahan, kini tumpah semuanya. Aku yang salah, Ayah! Aku tak tahu diri! Aku menyesal.

Ibu, sadarlah… aku rindu kau perintah seperti biasanya. Aku janji akan menuruti perintahmu dengan ikhlas dan tak cemberut lagi.

Ya Allah, jangan ambil Ibuku dulu. Biarkan aku bicara dengannya. Biarkan aku meminta maaf kepadanya. Tolong, selamatkanlah Ibuku! Beri aku kesempatan untuk bertaubat. Amin.

SELESAI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: