JEMPUT AKU DALAM INDAH OASE ITU

Bismillahir rahmanir rahim

Di tandus gurun hati ini, aku menunggu pagi menjelang. Di tengah dzikir ini, aku meratapi apa yang telah terjadi. Dan membayangkan apa yang akan terjadi. Aku memang belum akrab pada kenyataan sehingga aku harus bersiap-siap menghadapi segala hal yang akan disuguhkan olehnya. Terutama tentang oase yang akan ku singgahi.

Sebagai musafir, tentu aku merindukan oase di tengah gurun. Tetapi, rinduku pada oase di tengah gurun perjalanan hidupku tak membuatku asal melangkah. Aku pun musti berpikir panjang karena aku adalah manusia biasa yang tak pernah mau menyesal. Tak pernah mau kecewa.

Tapi aku tak memungkiri bahwa sebenarnya pikiran panjangku itu bukan hanya sekedar tak mau menyesal, tetapi aku merasa telah menemukan oase lain dalam perjalanan ini. Dan oase yang dihadapkan padaku sekarang lebih sempit, lebih kecil, dan lebih sedikit pohonnya. Tapi siapa sangka aku malah kecewa setelah menemukan oase lain itu. Bagaimana mungkin dia meninggalkan aku sedang dia telah membuatku silau. Telah membuatku tak mau meneruskan perjalanan hidup dengan melihat ke arah depan bahwa oase yang lebih kecil itu adalah oase yang lebih indah.

Tatkala datang sebuah awan membimbingku ke sana. Tatkala mentari menghiasi pagi dengan lebih terangnya. Mengatakan bahwa indah oase di sana hanya tinggal beberapa langkah lagi. Mengatakan bahwa aku hampir menjemput sejuk oase di ujung perjalanan. Ku anggap semua adalah buta. Adalah gelap. Adalah bisu. Adalah duka. Sehingga aku merasa harus kembali pada oase yang ku temukan dulu. Yang telah membuatku silau. Ku anggap tak ada lagi cahaya selain miliknya.

 Aku buta. Katakan saja aku gila. Aku ingin melihat kenyataan. Tapi aku penyakitan. Mataku silau oleh cahaya itu. Aku tak pernah tahu mengapa oase yang katanya lebih indah itu tak pernah ku lihat keindahannya. Yang katanya sejuk tak pernah ku rasa kesejukannya. Sebenarnya ada apa dengan diriku ini.

Aku sudah berusaha menapaki rintihan hati. Mencerna semua kata orang tentang keindahan sebuah oase yang asing bagiku. Di tengah langkah kecilku, aku berpikir tentangnya. Kata orang dia indah. Tetapi dia terlalu kecil untuk musafir ulung sepertiku…. terlalu sedikit apa yang dia punya untuk memenuhi kebutuhan seorang musafir andalan seperti diriku ini.

Heiii, tunggu!!! Musafir ulung? Musafir andalan? Aku berhenti dalam langkah ini. Sadar akan seutas sombong yang menghalangi hati. Lirih mulutku melantunkan istighfar. Lalu terbukalah sebuah jalan. Terbukalah mataku untuk melihat sebuah keindahan oase seperti kata orang.

Aku tahu aku terlalu sombong menghadapi kenyataan ini. Aku telah menafikan sebuah ilustrasi nyata tentang keindahan. Hingga keindahan itu menguak benteng pertahanan yang selama ini ku miliki.

Allah….

Maafkan aku.

Jemput aku dalam indah oase itu….

Gml, 21 Septa 2009

2 Syawwal 1430

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: