ceritaku dimuat di solopos 20 Maret 2010

GURUKU PAHLAWANKU

“Aku tidak suka guru itu. Dia galak. Seperti nenek sihir.”

Aku berhenti membaca buku yang ku pegang. Terbelalak mendengar pernyataan yang berasal dari kelas sebelah. Tampaknya sedang ada konferensi gunjing-menggunjing di sana. Sepertinya yang bersuara itu Noni, salah satu pentolan anak bermasalah di sekolah ini. Entah mengapa aku jadi tertarik pada topik mereka. Ku dekatkan lagi kursiku di tembok yang menjadi pembatas ruang kelas.

“Bukan seperti nenek sihir. Tapi seperti grandong.” Yang lainnya menyahut.

“Grandong ompong. Beo kesasar.” Yang lainnya lagi menambahi.

Kini mereka tertawa lepas. Sebenarnya telingaku panas mendengar gunjingan mereka. Aku tidak rela ada guru yang dihina. Walau bagaimanapun guru kita, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Tapi aku tak punya nyali untuk berhadapan dengan gank mereka. Aku cenderung pendiam, dan tak bisa marah di depan mereka. Dan bila ku paksakan, mereka nanti bukannya takut. Tapi malah tertawa terbahak-bahak. Jadi lebih baik aku diam. Semoga mereka cepat bertaubat sebelum kualat.

***

Kata Riri, Noni dan kawan-kawannya marah karena Bu Laras memberi hukuman pada Rino. Murid kelas 2 F yang segank dengan Noni itu sudah berkali-kali diingatkan kalau sekolah tak boleh berpenampilan preman. Tapi dia tetap nekat. Yang mengerikan lagi, dia ketahuan kebut-kebutan di jalan. Akhirnya dia dipanggil Bu Laras untuk dinasehati dan diberi hukuman; menulis surat penyesalan dan perjanjian tak akan mengulangi perbuatannya lagi dan ditambah dengan berlari mengelilingi lapangan sebanyak tujuh kali.

Bila Noni dan kawan-kawannya bilang Bu Laras adalah guru yang galak, suka mengatur, cerewet dan sering membeo, maka menurutku, itu salah besar. Guru BP itu selain cantik,  juga baik. Beliau adalah muslimah sejati yang istiqomah dan berpegang teguh pada agamanya. Seluruh tubuh beliau tertutup dengan kain kecuali wajah dan tepalak tangan. Tidak mungkin beliau memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan. Keputusan-keputusan beliau itu sangat tepat dan sarat hikmah.

Mereka saja yang tidak bisa membedakan antara galak dan tegas. Mereka saja yang masih kekanak-kanakan dan belum berpikir dewasa. Suka melakukan hal-hal yang memuaskan nafsu mereka sendiri dan tak pernah mau memikirkan akibat perbuatan mereka.

Jadi menurutku, beliau bukan guru yang galak, tetapi guru yang tegas. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Yang benar dibenarkan, yang salah disalahkan.

***

Sekolah sudah sepi. Semua murid sudah pulang. Kecuali aku dan beberapa teman karena kami sedang piket. Saat kami sedang asyik-asyiknya piket, tiba-tiba kami mendengar teriakan seorang cewek. Kami bersepakat meninggalkan kelas dan menuju ke arah suara. Saat kami keluar kelas, Bu Laras melintas di depan kami. Akhirnya, Bu Laras memimpin rombongan.

Kami menuju ke belakang sekolah. Betapa kagetnya kami melihat Noni bersandar di dinding seraya menangis ketakutan dan di depannya berdiri tiga orang lelaki tinggi besar.

“Hei, apa yang akan kalian lakukan terhadap anakku?” Bu Laras berteriak. Padahal beliau tahu Noni itu anak nakal dan pernah menggunjing beliau, tapi beliau masih memanggilnya ”anakku”.

Salah satu dari tiga lelaki itu berbalik menghadap ke arah kami. Aku menggigil. Bu Laras membentangkan tangannya, mencoba melindungi kami yang ada di belakangnya.

“Lelaki busuk! Beraninya sama perempuan! Sini, kalau berani!”

“Bisa apa kau, Cewek? Cepat serahkan benda berharga yang kalian miliki.”

“Sebelumnya, langkahi dulu mayatku!” Lagi-lagi, Bu Laras menantang.

Aku terperanjat. MasyaAllah! Aku terkaget-kaget melihat ekspresi Bu Laras. Beliau pasang jurus. Aku bisa melihat celana panjang di balik rok yang beliau pakai. Ternyata di balik kerudung lebar dan pakaian tertutup itu, beliau adalah jagoan silat.

“Wauw, itu gerakan bela diri tingkat utama. Sabuk hitam, karate.”

Aku memandangi Andi yang juga terkagum-kagum melihat gerakan lincah beliau saat mengikat mereka bertiga yang terus melawan dalam satu tali.

Bu Laras, aku bangga pada Anda… .

***

“Bu, kenapa Anda mau menolong orang yang telah menyakiti Ibu?”

Tanyaku, sehari setelah kejadian mengagumkan itu. Bu Laras tersenyum memandangku.

“Nanda… Allah itu tak akan berbohong. Kalau kita membalas keburukan saudara kita dengan kebaikan, maka permusuhan akan segera berakhir. Setelah kejadian itu, Noni minta maaf kepada Ibu dan berjanji akan memakai kerudung. Nah, dia menepati janjinya, kan?”

Ya. Sejak kejadian kemarin, Noni memang berubah. Subahanallah. Aku akan terus mengingat betapa guruku adalah pahlawanku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: