ceritaku di Solopos 15 Januari 2010

PENGEMIS DAN LASMINI

Ada yang menarik bagi hati Asma, siang ini. Dilihatnya seorang wanita duduk di tepi rambu-rambu lalu lintas. Kulitnya hitam, pertanda bahwa dia sering menelan sinar matahari. Rambutnya gimbal, tak pernah disisir. Baju dan celananya lusuh penuh tambalan di sana-sini. Bila lampu merah menyala, dia segera bangkit, berjalan terseok-seok untuk menengadahkan tangannya dan meminta-minta. Baru hari ini dia melihat ada pengemis di rambu-rambu itu. Biasanya tak ada sama sekali.

Dalam hati, Asma bergidik. Bersyukur karena nasibnya tak sesial wanita itu. Mendadak, dirinya berpikir. Naik bus setiap hari saja aku mengeluh minta ampun kepada Mama, merengek minta dibelikan sepeda motor. Ku bilang capek dan bosan bila setiap hari naik bus dan melindungi diri dari panas dan sumpek karena penumpang yang berjubel. Aku tak bisa membayangkan bila aku seperti wanita itu tadi. Aaah, tidak-tidak! Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu beristighfar dalam hati. Setelah itu terdengar suara kondektur berteriak,

“Kartosuro… Kartosurooo…”

Asma segera beranjak dari tempatnya. Menghampiri bus yang baru saja datang. Dan kali ini, langkahnya terasa begitu ringan.

***

Sudah tiga hari berturut-turut, Asma melihat wanita pengemis di tepi rambu-rambu lalu lintas. Dia berpikir, di mana rumah wanita itu, anaknya berapa, keluarganya juga pada ke mana? Lalu terbesit iba yang besar dalam hatinya.

Kali ini, Asma memutuskan untuk tidak pulang. Kebetulan di sekolah tadi ada ekstrakulikuler. Biasanya selesai sebelum maghrib. Bila sudah begitu, Asma memilih tinggal di rumah pamannya yang ada di samping sekolah. Pikirannya melayang pada wanita pengemis yang dilihatnya sejak tiga hari yang lalu.

“Paman, kenapa ya di negara kita ini banyak pengemis?”

Paman Asma yang sedang membaca SOLOPOS melirik ke arah Asma.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Ya, heran aja, Paman. Indonesia ini negeri yang kaya. Tapi kok banyak pengemisnya?”

“Jangan berpikir bahwa pengemis itu benar-benar miskin, lho!” Kata paman sambil melipat korannya.

“Maksudnya?”

“Yaa.. ada dari mereka yang benar-benar miskin. Tapi ada juga yang ternyata kaya raya. Kerjaannya mengemis tapi sapinya lima, rumahnya mewah dan sebagainya.”

Mulut Asma sedikit menganga. Ada wanita pengemis di dalam pikirannya. Jangan-jangan wanita itu sebenarnya kaya. Tiba-tiba ada yang menggelitik hati Asma. Dia ingin mencari tahu tentang wanita pengemis itu.

“Beli roti bakar, Paman..”

Asma sedikit merayu pamannya, supaya boleh keluar setelah maghrib. Barangkali wanita itu masih di sana, sehingga Asma bisa menjalankan rencananya.

Wanita itu masih ada di tepi rambu-rambu lalu lintas. Tapi Asma berharap, sebentar lagi dia pulang. Benar. Dia mulai beranjak. Asma bersiap-siap mengikutinya dari belakang. Dia meraba saku, memastikan hp-nya tak ketinggalan. Jadi bila sewaktu-waktu dia butuh bantuan, dia bisa langsung menghubungi pamannya.

Sambil menjaga jarak, Asma terus mengikutinya hingga masuk ke dalam gang sempit. Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah rumah yang cukup kumuh. Setelah dia masuk, Asma mendekati rumahnya. Tak ada suara. Sepertinya dia tinggal sendiri tanpa suami dan anak-anak. Asma berpikir, wanita pengemis ini, benar-benar miskin. Kembali rasa iba menggerogoti hatinya…

Asma ingin menunggunya keluar, sebelum akhirnya hpnya berdering. Sms dari pamannya, menyuruhnya segera pulang. Dengan sedikit jengkel, Asma mengayuh sepedanya. Tetapi dia bersyukur punya paman yang begitu menyayanginya.

***

Libur semesteran kali ini, Asma dan keluarga berencana untuk silaturrahmi ke rumah Nenek dan Kakek di Bandung. Begitu datang, mereka langsung disambut hangat oleh Nenek dan Kakek. Tetapi, belum lama dia duduk, sebuah Honda City, masuk ke halaman rumah Neneknya.

“Eh, Lasmini datang…”

Nenek tampak sangat gembira melihat mobil itu. Lasmini? Siapa dia? Asma bertanya dalam hati.

“Lasmini itu kerja di Solo. Dua hari yang lalu dia ke sini. Cerita tentang kesuksesannya. Mobil itulah salah satu buktinya.” Nenek begitu bangga dengan orang yang bernama Lasmini.

“Ma, Lasmini itu siapa sih?” Akhirnya Asma bertanya kepada mamanya.

“Anaknya Tante Rida. Maaf Mama tak pernah cerita. Sudah lama dia merantau, karena dia sudah berjanji tak akan datang kecuali kalau sudah sukses.”

Asma ber-o ria. Dia juga ikut senang dengan keberhasilan sepupunya. Tetapi senyumnya yang merekah mendadak hilang saat dia menatap lekat-lekat seorang wanita yang dipanggil Lasmini oleh neneknya tadi. Ternyata dia.. wanita pengemis di tepi rambu-rambu..

SELESAI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: