Es Krim Coklat

Bismillahirrahmanirrahim…

Apa yang kau rasakan bila kau tiba-tiba mendapat es krim saat tenggorokanmu kering… saat itu kau tengah berjalan jauuuuh sekali dan air di botolmu telah habis? Aku yakin jawabannya akan “Senang sekali”…

Begitu juga diriku… Aku dapat es krim coklat di tanggal 19 Februari 2012 lalu. Rumahku dipenuhi semua kerabat, teman, ustadz, tetangga… mereka semua mengucapkan selamat dan doa untukku,”BARAKALLAHU LAKI WA BARAKA ‘ALAIKI WA JAMA’A BAINAKUMA FI KHAIRIN…”

Ku beri tahu… bahwa es krim ku itu datang saat es krim ku yang dulu hilang. Tepatnya pergi melarikan diri. Meninggalkan hatiku yang sudah terlanjur termakan oleh kata-kata yang seakan memberi harapan. Haahhhh… salahku sendiri mau dibohongi… salahku sendiri mau dipermainkan orang….

Yang lebih pahit lagi, aku dapat kabar bahwa akulah yang mengejar-ngejar si es krim itu… aku sangat terpukul… padahal, kalau saja mereka tau… dia yang tanpa kata tanpa meminta maaf pergi begitu saja dan tidak memberi kejelasan. dia yang melupakan kata-katanya yang dulu-dulu, kata-kata yang memberi sejuta harapan bagi peminat es krim… dia yang tega mengecewakan banyak orang, dia yang omongannya tak bisa dipegang…. dia yang…. ahhh!!! Lalu aku yang kena imbasnya. hanya aku…. Apakah itu adil??? Air mata ini tak bisa dibendung. Lukaku memar. Hatiku merintih. Kadang aku sempat berpikir kalau saja dia dengan tegas bilang bahwa dia tidak mau dan memilih orang lain, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini. Husnuzhannya, dia tidak mau menyakitiku dan orang -orang yang aku sayangi. tapi parah!!! Justru sikapnya itu lebih menyakitkan berlipat-lipat kali. Apalagi dia berstatus sebagai orang yang paham agama.

Aku tahu bahwa saat itu mungkin aku sedang dihukum oleh Allah atas kecerobohan yang aku buat…. ya Allah maafkanlah diri ini…

Saat dia pergi dan memilih orang lain, aku segera berdoa,”INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN, ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATII WAKHLUF LII KHAIRAN MINHA” (sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhya kita akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berikanlah pahala atas musibahku dan gantilah untukku dengan ganti yang lebih baik)

Subhanallah ternyata benar!!!

Es krimku yang sekarang sangat melegakan tenggorokanku yang kering kerontang. mengobati luka hati yang melebar. Aku tak akan pernah menyesali keputusan ini… Jauh sekali bila dibanding dengan es krim yang dulu. Bukannya bermaksud menghina. Tetapi aku hanya menggambarkan bahwa doaku terkabul. kalau salah yaaa…. semoga Allah mengampuni, amin. kalau yang bersangkutan membaca tulisan ini…mohon jangan marah yaaa… semua sudah berlalu. dan semoga Allah mengampuni kita, amin. aku juga salah kok. Salah kenapa mau digombalin… heheheey…

Sobat…

Aku bercerita bukan tidak ada tujuannya. Ceritaku ini bukan satu-satunya cerita yang beribroh di dalamnya… Bahkan banyak sekali cerita-cerita macam begini.

Aku ingin mengajak hati-hati yang sedang patah… mata-mata yang telah basah… jiwa-jiwa yang sakit parah untuk melihat pada sesuatu yang ada di balik luka dan sayatan hidup yang menerpa. Memang tak kelihatan. Saat sedih menyapa, musibah mendera, sakit bertandang, yang ada di depan kita hanyalah apa yang menimpa kita saat itu. Bila ujian sedang datang, tak ada guna berlama-lama murung dan menutup diri. Bodoh bila beranggapan bahwa dunia hanya sampai di sini. Air mata yang keluar pun tak akan membantu kita mencapai apa yang kita inginkan saat itu juga. benar bukan?

Orang yang terlahir di dunia ini tidak lahir sendirian. Dia pasti ditemani dengan satu hal yang bernama masalah. Semakin dia melahap usianya, semakin banyak pula hal yang harus dia hadapi. Kalau kita berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Ya Allah, jauhkan aku dari masalah”, maka dijamin doanya tidak akan dikabulkan. karena memang Allah mencipta kita agar Dia menguji kita mana di antara kita yang paling berkualitas amalannya. Seharusnya bukan itu yang kita minta, tetapi ,” Ya Allah… wahai Dzat yang maha bisa segala-galanya, mohon bila Engkau memberiku masalah, berikan kepadaku masalah yang tak melebihi kemampuan yang aku punya. Berikan kepadaku pula kesabaran yang tiada batas dalam menghadapinya. Jadikanlah tiap masalah yang menghampiri aku sebagai jalan untukku selalu dekat dengan-Mu…”

Sudah banyak pengalaman yang ku punya juga mungkin Sobat sekalian, bahwa kesedihan yang Allah berikan tak akan lama kita rasakan. Dia pasti memberi ganti dengan yang lebih baik. Dengan yang lebih asyik. Maka jangan hanya memandang sebatas pandangan mata. Tetapi yakinlah bahwa di balik pandangan mata kita yang terbatas itu, ada banyak hal yang membuat kita tertawa bahagia. Bila kita hanya berdiam dan berjalan di tempat, hidup dalam kesedihan dan tenggelam dalam masa lalu, tak berusaha menggapai apa yang membuat kita bahagia, maka ingatlah, sesuatu yang membuat bahagia itu tak akan datang sendiri. Dia akan datang bila kita menjemputnya dengan segala cara yang (tentunya) Allah ijinkan.

Salam buat sobat-sobatku di mana pun berada….

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Bukannya bangkit

bila kau sangka aku mati, maka kuburlah sangkamu di bumi yang paling dalam. aku bukannya bangkit karena aku sejak dulu memang masih begini. aku hanya hilang dalam kegelapan malam dan kini aku datang aku muncul aku tampak… setelah mentari menyingsing terbit menembus cakarawala.

The True Happiness

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap detik yang berlalu, dari setiap langkah yang kita lalui, setiap kedip mata kita, setiap jantung yang berdetak….

Hanya saja mungkin kita terlalu disibukkan oleh kenyataan-kenyataan hidup, sehingga membuat kita kurang bisa mengambil pelajaran yang disuguhkan oleh Allah lewat kehidupan ini.

Aku punya seorang sahabat. Dia bukanlah orang yang cantik wajahnya. Dia tidak menarik karena perawakan tubuhnya pendek dan  kecil, tidak sepertiku. Dia juga bukan orang yang berduit tidak pula anak orang yang ber-uang. Dia bukan pula pemegang bendera juara di kelas. Tapi semua itu membuat aku sadar… sadar sepenuhnya bahwa sesuatu yang membuat bahagia bukanlah kecantikan zhahir.

Aku sangat menghargainya karena setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya adalah hasil dari olahan hati…. Aku sangat menyayanginya karena dialah yang menyayangiku saat dunia ini menghilang dan aku tak terlihat oleh mata orang-orang…. Aku sangat menghormatinya karena kesederhanaan yang begitu bersahaja dari dirinya, ibu dan bapaknya… Dia yang -bi idznillah- membuatku lebih hidup saat aku hampir mati tak memiliki harapan…

Kemarin dia curhat padaku. Di tempat kerjanya, dia punya seorang teman yang cantik jelita. Putih kulitnya. Hampir semua lelaki tertarik padanya. Aku tahu sahabatku berkecil hati dengan apa yang dia miliki. Adalah sesuatu yang normal, menurutku. Tetapi dengan tegas ku katakan padanya,

“Tidak perlu anti bersedih dengan semua yang telah Allah beri untukmu, Ukhti… Justru berbahagialah karena kau tidak menjadi fitnah bagi lelaki. Berbahagialah karena Allah memilihmu untuk mendapat kecantikan batin. Aku yakin, semua orang lebih berbahagia memiliki sahabat yang tak punya kelebihan zhahir tetapi berhati sutra sepertimu. Tidak usah pedulikan peduli orang. Inna akramakum ‘indallahi atqakum… ingat kan?”

***

Begitukah para lelaki itu menganggap cantik seorang wanita? Dari bodinya yang aduhai, kulitnya yang cemerlang, matanya yang tajam, alisnya yang tebal menyabit, tubuhnya yang semampai….

Ketahuilah wahai para lelaki!!!

Wanita bukanlah barang dagangan yang seenaknya saja dapat kau nikmati dengan matamu yang keruh!

Sadarlah bahwa apa yang kau lihat itu seperti sebuah lilin. Api di sumbunya ibarat waktu. Dia membakar tubuh lilin hingga habis. Keindahan yang kau lihat akan habis dimakan wantu. Salah dan bodoh besar bila kau memandang baiknya wanita hanya dengan apa yang kau lihat dengan matamu itu. Kau tidak pernah tahu tentang hakikat mereka. Kekagumanmu pada mereka hanyalah karena emosi sesaat karena kau tak sadar bahwa kedondong itu luarnya mulus tapi dalamnya duri yang bercabang.

Betapa dirimu sangat tak adil pada dirimu sendiri. Kau bisa saja puas mencampakkan wanita-wanita yang kau anggap tak cantik dengan mata keruhmu itu. Kau boleh saja menarik wanita yang fisiknya bak magnet ke dalam dirimu. Tetapi kau harus ingat!!! Bila kau memilih wanita hanya karena hal yang sangat remeh itu, maka berarti KAU SAMA SAJA BUNUH DIRI!!!!

 

Juga kau wahai para wanita!!

Jangan pernah kau bangga karena banyaknya lelaki yang memujamu, karena kau tahu… barang lelangan banyak diminati orang!!!

Ingatlah bahwa mutiara yang mahal itu berada di dalam cangkang yang sangat kuat. Tersembunyi di dasar laut. Tapi semua orang mengakui bahwa dia amat berharga. Dia amat mahal. Dia tak mungkin dibuang oleh pemiliknya. Dia tak seperti barang lelangan. Tak perlu menampak-nampakkan diri kepada orang-orang. Dia sederhana dan bersahaja.

Dipuja banyak lelaki bukan merupakan penghargaan mereka terhadapmu. Berpikirlah kembali! Hal itu adalah suatu pelecehan terhadapmu. Bohong besar saat mereka bilang kau cantik dengan kata atau dengan sikap mereka. Mereka menjebakmu. Mereka ingin kau berbunga-bunga dan melayang-layang ke angkasa.

Lelaki yang baik adalah lelaki yang menjaga hatimu. Bila dia memang mencintaimu, tak kan pernah dia mempermainkanmu. Dia akan datang secara tegas dengan pertanggungjawaban dan dengan ikatan yang sangat kuat. Bukan dengan sikap yang membuatmu Ge eR, kata orang…

Camkanlah, wahai saudara, bahwa kebahagiaan itu bukanlah bersumber pada berapa banyak materi yang didapat. Tetapi bersumber pada hati dan sikap  saat menerima segala yang telah didapat.

Basah Sudah

Bismillahirrahmanirrahim…

BASAH…

Berangkat dari matamu yang basah

Melangkah dan hatimu retak sudah

Ingin kau rebah di sisi malammu yang gundah

Seakan ta ada harapan lagi bagi hari yang merayap dalam catatan resah

Adakalanya seseorang harus merendahkan dirinya sendiri untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia ta peduli corengmoreng yang sudah diberikan mata orang di wajahnya. Yang ada di pikirannya hanya satu: keinginannya harus terkabul. Dia bahkan sebenarnya tahu bahwa di balik keinginan itu ada kekecewaan yang menantinya. Ada penyesalan yang menunggunya. Kekecewaan dan penyesalan yang pasti akan terbuka bersama berlalunya detik-detik waktu. Tetapi keinginan telah membutakan retina mata hatinya. Sudah memasung citra yang selama ini dia bangun untuk dia sandingkan sejajar dengan namanya…

***

Aku terbangun dari mimpi panjangku. Mengerjap-kerjap memandang sekelilingku yang masih sama seperti sebelum aku tertidur. Semua berjalan layaknya ta terjadi apa-apa. Sedari ku terbangun tadi, aku merasakan basah di bagian bawah telapak kakiku. Ku tengok… Ternyata ada luka di sana. Dan basah itu… merah warnanya. Rupanya aku telah menginjak duri… Sebentar kemudian aku merasakan basah di dada. Ku raba dan ku lihat tanganku. Basah itu merah… Aku mengenal warna ini… warna yang berasal dari dasar hatiku. Sekarang ganti wajahku yang basah. Kali ini warnanya bening seperti kristal. Basah ini berasal dari mata…

Iya, aku baru sadar… Dalam mimpiku tadi, aku ingat aku telah mengkhianati-Mu, Kekasih… Di dalam perjalanan menuju kepada-Mu aku telah menginjak duri yang memerihkan langkahku. Perihnya sampai di hati ini dan darahnya pun mengalir hingga sekarang…. Mataku turut menyumbangkan basahnya…

Aku menangis…

Dalam tangisku aku bersyukur…

Allahumma, Yaa Allah…

Engkau telah memberiku kesempatan untuk memungut hikmah yang tercecer di sisa-sisa perjalananku…

Engkau telah memberiku esok hari yang harus ku gunakan untuk menutup luka masa lalu…

Engkau telah menunjukkan kepadaku bahwa apa yang ku lakukan ini tidak membuat-Mu restu…

Engkau begitu sayang padaku…

Sehingga Kau beri hal yang begitu pahit untukku sembuh dari sakit…

Dan yang paling membuatku bersyukur…

Engkau telah mengizinkanku menangisi titik-titik hitam perjalananku supaya air mata ini bisa segera menghapusnya…

Wahai Dzat Yang Maha Indah…

Bagikanlah keindahan-Mu padaku…

Letakkanlah pada sangkaku pada-Mu…

Letakkanlah pada akhlak dan sifat-sifatku…

Taruhkanlah pada tutur dan kata-kataku…

Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang…

Hujanilah hati ini dengan kasih dan sayang-Mu…

Sesungguhnya kasih dan sayang-Mu ibarat mata air yang tak pernah kering…

Siramilah jiwa ini dengan mata air kasih-Mu…

Rendam aku dalam lautan Sayang-Mu…

Sungguh ada pada Diri-Mu, hanya ada pada Diri-Mu…

Segala harapan yang tak pernah menitikkan kekecewaan…

Keinginan yang tak pernah usang…

Muara kerinduan yang tak pernah bercabang…

Cinta yang tak pernah berkhianat…

Janji yang tak pernah diingkari…

Kata-kata yang tak pernah sia-sia…

Jadikanlah diri ini selalu mengharap pada-Mu… Selalu Ingin, Rindu, Cinta, Janji dan berkata…. Semua hanya untuk dan pada-Mu…

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Hati Dinyatakan Sehat Bila…

Bismillahirrahmanirrahim

Sumber: Tazkiyyatun Nafs (Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah)

Hati Dinyatakan Sehat Bila…

  • Kerinduannya terhadap khidmah seperti kerinduan seorang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu’adz berkata, “Barangsiapa senang untuk berkhidmah kepada Allah AWJ, segala sesuatu akan senang untuk berkhidmah kepadanya. Barangsiapa tentrram dan sejuk hatinya lantaran (taat kepada) Allah AWJ, tentram dan sejuk hati pulalah semua yang memandangnya.”
  • Si empunya hati yang sehat hanya memiliki satu keinginan; taat kepada Allah AWJ.
  • Sangat bakhil terhadap waktu. Menyesal, jika terbuang sia-sia. Kebakhilannya terhadap waktu, melebihi kebakhilan manusia terkikir kepada hartanya.
  • Jika telah masuk waktu shalat lenyaplah segala harapan dan kesedihannya terhadap dunia. Ia mendapatkan kelapangan, kenikmatan, penyejuk jiwa di dalam shalat itu.
  • Tidak pernah letih untuk berdzikir kepada Allah AWJ, tidak pernah bosan untuk berkhidmah kepadaNya dan tidak bersikap manis kecuali kepada orang yang menunjukkan jalan kebenaran atau mengingatkannya kepada Rabbnya.
  • Perhatiannya untuk membenarkan amalan (membuat suatu amal dilaksanakan secara benar), melebihi perhatiannya untuk beramal. Sehingga dia akan berusaha untuk ikhlas, loyal, ittaba’ dan ihsan di dalamnya. Bersamaan dengan itu ia menyaksikan betapa banyak anugerah yang Allah AWJ berikan kepadanya dan ia tetap menyadari betapa ia telah banyak melalaikan hak-hakNya.

Untukmu, Yang Begitu Wanita

Jangan kau tanya padaku tentang bagaimana perasaanku padamu. Bila kau mengetahuinya, ku jamin kau akan tercekat. Kau akan terperanjat. Sebab aku telah menyalahi adat. Aku tak sepenuhnya mengerti tentang kekuasaan adat di keluarga ini. Bahwa seorang guru tak boleh menyukai muridnya.  Sebenarnya siapa yang membuat peraturan brengsek itu? Peraturan yang mengotak-kotakkan cinta. Memenjarakan harapan. Mengekang asa. Membuat tekanan dalam dada kemudian menjalar ke otak dan memporakporandakan hati.

Kau bernama Hidayati. Di mataku, kau adalah muridku yang paling perempuan. Teman-temanmu biasa memanggilmu Heidi. Tapi aku lebih tentram memanggilmu dengan nama Hidayah. Kau tahu sebabnya? Karena memang lewat kau-lah, Allah menunjukkanku ke jalan-Nya yang lurus.

***

Ibuku marah besar, Hid. Karena aku mempertahankan cintaku padamu. Kata ibu, aku adalah anak yang kurang ajar. Sudah berani melangkahi adat nenek moyang keluarga. Mereka masih percaya khurafat-khurafat murahan nenek-nenek tua itu. Kata Ibu, kalau menikah dengan  murid, nanti anak akan cacat dan rizki akan tersendat-sendat. Ibuku terlalu buta untuk melihat kenyataan. Sudah berapa banyak seorang guru menikahi muridnya dan anaknya normal, tak kurang sesuatu apapun dari dirinya. Bahkan rizkinya juga mampu menutup rasa lapar anak tujuh turunannya.

Aku ingin buktikan itu, Hid…

Maka aku datang ke rumahmu. Aku tak takut ibuku tak mengantarku dengan payung keridho-annya. Karena aku yakin aku ada di jalan kebenaran. Aku yakin aku tak salah memilih wanita. Bukankah Nabi Muhammad saw. menganjurkan kepada kita untuk memilih istri dengan melihat agamanya? Aku sudah membuka mata, Hid. Bahwa kau bukanlah wanita secantik artis. Bahkan kamu mempunyai mata yang juling. Tetapi bukan itu orientasi pernikahanku. Bagiku kau sempurna. Kau begitu wanita. Aku ingin cinta ini telah halal saat kau wisuda sebagai hafizhah berprestasi di Ma’had Tahfizhmu yang ku tahu bernama “Al-Mubarak”. Aku ingin mendampingimu. Mengecup keningmu sebagai hadiah wisudamu, nanti.

Hikmah

Bismillahirrahmanirrahim

Sore hari Jum’at, 4 Maret 2011, sekitar jam 15.30, aku selesai tahfizh di belakang UNS. Langit baru saja berhenti menangis. Sebenarnya ada kemungkinan untuk menangis kembali, mengingat wajahnya yang sangat muram. Aku harus segera sampai di Mangkubumen untuk kuliah Bahasa Arab. Jadi meski langit sedang cemberut, aku nekat berbekal tawakal dan membangun segunung harapan bahwa langit akan menangis bila aku telah sampai di tujuan.

Aku diboncengkan temanku naik sepeda motor. Kami masih berada di samping pagar dinding UNS. Tetapi langit tentu saja lebih mementingkan perintah Allah. Akhirnya kami memutuskan untuk memakai jas hujan. Satu untuk berdua. Bisa dibayangkan air yang begitu bandel membasahi segala yang ku pakai. Bagaimana aku kuliah dengan keadaan seperti ini… Di dalam hati aku berkata kepada Allah, ya Allah… jangan sekarang… biarkan aku sampai dulu di tempat kuliah…

Tetapi Allah tampaknya tak mengabulkan doaku. Bahkan sampai di Jebres, jalanan sudah jadi seperti sungai. Aku difoto oleh langit. Takut sekali mendengar suara kameranya. Di dalam hati, aku berdoa: Allahumma laa taqtulnaa bi ghadhabika wa laa tuhliknaa bi ‘adzaabika wa ‘aafina qabla dzalik… Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir..

***

Alhamdulillah. Aku sampai di Mangkubumen. Aku turun tepat di depan rumah Usth. Munawaroh. Aku dan beliau sudah seperti kakak dan adik. Maksudnya kita udah biasa banget, sehingga aku nggak sungkan untuk sekedar pinjam baju… aku mengetuk pintu rumahnya. Tetapi tak ada jawaban. Barangkali kurang keras. Ku ulangi lagi. Tetap tak ada jawaban. Akhirnya aku pencet nomor hpnya. Dia bilang dia masih di Semarang. MasyaAllah… aku baru ingat dia kan ke Pekalongan untuk menghadiri walimah. Dan sekarang masih ada di Semarang! Kira-kira semenit setelah itu, ada sms masuk:

Info ma’had Aly_2: mata kuliah bahasa Arab diliburkan dan diganti besok pagi jam 06.00.

Blaaarrr!!!

MasyaAllah… Innaalillaah… Hasbunallah wa ni’mal wakiil… Aku sudah terlanjur basah kuyup seperti ini… tasku juga basah padahal isinya adalah aset akhiratku: LAPTOP!!! (Semoga tak ada bahaya yang mengancamnya. Amin.) Lalu tiba-tiba ternyata kuliah ditiadakan… tegaaa sekaliii. Entah waktu itu siapa yang ku maksud tega sekali terhadapku… Ust. Rosyidi-nya? Tak mungkin, mana beliau tahu keadaanku? Ketua kelas-nya? Ini juga tak mungkin karena barangkali dia juga baru dapat kabarnya.

Ya Allah… tidak boleh mengeluh… tidak boleh mengeluh…

Aku berkata begitu di dalam hati. Mencoba setenang mungkin menghadapi situasi seperti ini. Aku punya dua pemikiran; beli baju baru atau…. Bagaimanaaa ini, ya Allah….

Akhirnya sudah ku buat keputusan. Aku nekat. Ku biarkan kakiku berenang di jalan yang sudah jadi sungai. Ku lihat anak-anak menikmati situasi seperti sekarang ini. Mereka berlari-lari, saling ciprat menciprati, bergaya seperti supermen kesasar di kali… Alhamdulillah, aku bisa tersenyum saat hatiku sedang kecut seperti ini. Jujur, waktu itu aku tidak marah. Hanya sekedar kecewa… Tapi aku yakin, apapun yang dijalani muhsinin tak akan disia-siakan oleh Allah.

Yah, kalau memang Allah menginginkan yang begini, JALANI AJA. Toh akhirnya nanti Allah juga yang akan memberi ‘sesuatu’ padaku. Memberi hal yang paling aku tunggu: HIKMAH!!!

Aku naik ke lantai 3, markas calon-calonnya bidadari surga, permata-permata dunia, amin…

Alhamdulillah di sana aku dapat perlakuan istimewa… terimakasih ya Allah…

Ibuku ikut pengajian sore hari itu. Ayahku menunggu di mobil. Aku turun dari lantai 3 dan menuju mobil ayahku. Biasa, kepingin diantar balik ke pondok daripada ngrogoh kocek limaribu untuk bayar tukang becak…

***

Aku semakin tahu ya Rabb…

Wahai Cintaku…

Engkau ingin mengajariku betapa Dirimu sangat pandai…. Engkau mengajari aku bagaimana aku harus bersabar. Untuk menuju “yusron” setelah “ ’usron” memang tidak seperti mengambil batu di jalanan.

Saat aku berdoa kepada-Mu… “Ya Allah, jangan sekarang hujannya. Biar aku sampai di tempat kuliah dulu… “ Tetapi Engkau dengan ‘teganya’ malah mengguyur badanku dengan rahmat-Mu yang basah, Engkau malah menjepretku dengan kilatan dari langit. Membiarkan ban sepeda motor butut bin jadul temanku menerjang arus sungai jalanan…. saat itu Engkau hendak mengajariku bersabar. Mentitahku untuk berusaha menjari jalan keluar. Engkau tidak memanjakanku. Engkau mengajari aku supaya aku kuat mendaki tebing-tebing kehidupan ini. Bahwa segala sesuatu itu butuh proses. Tidak selalu langsung didapatkan.

Aku yakin Engkau tak akan pernah berlaku buruk padaku. Meskipun bila dilihat dari zhahir, aku terjilat api, tetapi sebenarnya Engkau akan mengganti kulitku yang terkelupas dengan kulit yang lebih menawan. Meskipun aku tenggelam dalam lautan air mata, Engkau ingin mengajariku untuk berenang ke tepiannya.

Aku yakin Engkau mencintaiku selamanya, ya Allah…

Selamanya….

Terimakasih atas segala nikmat ini…

Elang

Ku pinjam pikirmu untuk ku pakai sebagai elang dalam mengarungi langit kehidupanku…

Aku tahu aku sedang berlawanan arah dengan akar di mana aku pernah tumbuh

Aku mencoba untuk melawan arus

Aku tahu aku akan bertemu dengan langit yang menghitam

Tetapi kau bilang….

Jalan masih panjang

Bahwa di seberang lautan sana ada surga

Yang harus ku beli dengan jiwa dan raga

Betapa aku lemah selemah-lemah apa yang lemah

Aku mempunyai…

Hati yang tipis

Yang mudah robek

Mudah tertiup angin apapun

Aku membutuhkan pancangan

Di mana aku akan selalu ada dalam naungan-Nya

Aku ingin bisa meminjam keteguhanmu

Ingin bisa menyewa kejernihan telagamu

Ingin bisa berpayung dalam kelembutan hatimu

Duhai…

Berikanlah padaku

Akan ku bayar walau dengan mahkotaku…

Usia

Bismillahirrahmanirrahim

Betapa inginnya dia membantu para ulama dalam dakwah mereka… betapa inginnya dia menuntut ilmu lebih banyak dari yang dia tuntut sekarang… Betapa inginnya dia menghabiskan waktu untuk menghafal Al-Qur`an, menjadi seorang penulis yang dengan tulisannya Islam bertambah jaya… Betapa dia ingin mempunyai masa remaja yang begitu panjang dan tak akan pernah berlalu sehingga apa yang dimilikinya bisa sempurna tersalurkan untuk Islam dan muslimin…
Mengapa usianya cepat sekali menua… Mengapa waktu terus berlari dan tak pernah lelah menjauh… Dia merasa belum memaksimalkan masa remaja ini untuk Islam… Tetapi keadaan menuntutnya untuk melakukan sesuatu yang memang menjadi sunnah para Rasul…
Dia begitu terhimpit…
Dia begitu takut…
Ya Allah, kasihanilah dia…
Bimbinglah dia dan berikanlah padanya apa yang paling baik menurut-Mu… bukan menurut hawa nafsunya…
Amin ya Rabbal ‘Alamin…

Sembuh

Bismillahirrahmanirrahim

Ya Allah…

Aku sudah mulai sembuh. Terimakasih atas keadaan ini. Rasa sakit itu tak lagi menusuk-nusuk hatiku. Aku sudah bisa sedikit demi sedikit melupakan kejadian pahit itu dan merasa seperti tak pernah terjadi apa-apa. Aku mulai bisa bangkit dari keterpurukan kemarin.

Meskipun bila aku melihatnya, rasa perih itu masih ada. Radang itu tergores… .

Tetapi aku bersyukur aku sudah mulai membaik.

Aku bisa berpikir hikmah dari kejadian ini, ya Allah…

Bahwa Engkau ingin memberitahu kepadaku bahwa keshalihan seseorang itu tidak dilihat dari zhahirnya…

Bahwa Engkau ingin mengajariku tentang kesempurnaan iman

Bahwa Engkau ingin aku semakin mengenal-Mu

Bahwa Engkau ingin agar pahalaku semakin banyak

Dan juga…

Engkau ingin aku semakin tahu bahwa aku mempunyai seseorang yang begitu mencintaiku karena-Mu… Seseorang yang siap dengan telinganya untuk mendengar apa yang aku katakan. Seseorang yang siap untuk ku pinjam bahunya saat letih mendera hari-hariku. Seseorang yang siap dengan mau’idhoh-mau’idhohnya yang menghujam kuat di dalam hatiku… seseorang yang senyum oasenya mampu melegakan dahaga seorang musafir di dalam gurun sepertiku…

Ukhtii… aku harus bersyukur atas anugerah Allah berupa dirimu, untukku….

Terimakasih atas semua rasa sakit yang manis ini, ya Allah….

Jadikanlah aku ini orang yang sangat bersyukur atas apapun yang menimpaku, baik suka maupun duka…

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Saat sore sedang murung di awal Ra-wal

01 Ra-wal 1432

05 Jany 2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.